Close

Whatsapp

Oleh : Cukup Wibowo

WARTA PERTIWI.COM – Apakah sebuah tulisan bisa dirasakan oleh pembacanya dengan  uraian kata dan kalimat tanpa penjiwaan? Atau, apakah deretan kata atau kalimat bisa menjangkau maksud yang dituju tanpa kemudi rasa dari sang penulis? Bila setiap rasa adalah kemutlakan yang diperlukan untuk membuat apapun menjadi tidak hambar, menjadi tidak kosong melainkan berisi harapan-harapan, maka seumpama itulah kira-kira sebuah tulisan bisa menjelaskan maksudnya dengan penuh rasa.

Dalam pergaulan sosial di posisi apapun kita, keberadaan kita tak akan pernah steril dari anggapan pihak lain. Menjadi pribadi yang menyenangkan atau malah membuat susah keadaan adalah risiko dari cara kita menghadirkan diri dalam sebuah pertemuan atau persinggungan dengan orang lain. Gambaran itu makin terlihat dan terasakan manakala intensitas persinggungan antar pribadi terjadi.

Whatsapp Grup yang kerap disingkat sebagai WAG adalah salah satu ruang persinggungan intens itu. Setiap orang memiliki harapan, dan karenanya setiap orang akan menyesuaikan apa yang dirasakannya itu dengan harapan yang diinginkannya. Dalam keadaan seperti ini tak bisa dihindarkan atas terjadinya pengelompokan kesesuaian berdasarkan orientasi pikiran yang sama, atau selera atas diksi yang dipilih sebagai bahan pengungkapan.

Tak pelak, WAG menjadi serupa panggung sekaligus cermin yang baik bagi yang menyadari akan pentingnya mempelajari nilai-nilai dalam satu kebersamaan. Istilah-istilah yang berkaitan dengan kebersamaan seperti eksistensi (unjuk diri), apresiasi (penghargaan), persepsi (anggapan), konklusi (kesimpulan), akan mengalir dengan sendirinya menyertai apa yang diungkap dan terungkap tentang diri seseorang. Dan bila kita ada di dalam maksud itu, maka kita adalah “seseorang” dalam pengungkapan tersebut.

Kita memang harus pandai memilih saat berada dalam kebersamaan yang menyediakan begitu banyak kemungkinan, yang membuat kita bisa menjadi pribadi yang bermanfaat atau bahkan sebaliknya menjadi olok-olok karena kekeliruan yang hanya membuat diri terlihat begitu kekanak-kanakan di mata orang lain. Tak hanya itu, salah pilih tindakan, oleh seandaianya pun karena ketidaktahuan diri dalam membedakan mana yang dibutuhkan dan mana yang tidak akan justru mengundang kelucuan. Oleh semua itu, karenanya, kita memang harus terus belajar agar kekurangan kita berkembang menjadi lebih baik.

Dalam pandangan Islam, kita memang tak seharusnya merasa diri bisa sempurna karena yang sempurna hanyalah Allah SWT. Namun demikian, sebagai hamba-Nya tentu kita harus terus melakukan ikhtiar untuk bisa membawa diri pada “kesempurnaan harapan” agar bisa menjadi pribadi dengan perilaku yang baik khususnya saat berinteraksi sosial. Salah satu ikhtiar itu adalah dengan menjalankan ibadah puasa.

Puasa, seperti yang dikatakan Ali Ahmadil Jurjawi, salah seorang ulama dan pemikir dari Al-Azhar Mesir, yang sangat mumpuni keilmuannya dan kesalehannya, adalah manifestasi religiusitas dan amalan mendekatkan diri kepada Tuhan. Ini menggambarkan betapa puasa itu adalah rahasia antara seorang hamba dan Tuhannya, yang tidak disisipi oleh sikap pamrih.

Seseorang yang berpuasa menahan dirinya dari syahwatnya dan kesenangannya sebulan penuh, yang di balik itu ia tidak mengharapkan apa-apa kecuali persenyawaan dirinya dengan Allah Ta’ala semata. Tidak ada pengawas atas dirinya selain Dia. Maka hamba itu mengetahui bahwa Allah mengawasinya dalam kerahasiaannya (privacy) dan dalam keterbukaanya (publicity). Alasan inilah yang membuat siapapun yang menjalankan ibadah puasa tak bisa mengelak dari kehati-hatian dan kesabaran baik pada tuturan maupun tingkah laku karena setiap gerak gerik dirinya terpantau dan terevaluasi oleh Dzat Yang Maha Berkuasa atas dirinya, ialah Allah Ta’ala.

Sebagai ruang pembelajaran, Ramadan adalah ruang yang memang tepat bagi latihan bersabar dan berhati-hati dalam bertindak. Pribadi yang sabar adalah pribadi yang bisa menahan diri untuk tidak melakukan tindakan di luar batas ketidakpantasan.

Oleh karena itu, dalam pergaulan di era media sosial terasa sekali hikmahnya kita berpuasa. Dengan kesanggupan untuk bersabar dan menahan diri akan bisa membuat kita tak mudah terpancing karena kita tahu mana yang sepatutnya dan tidak untuk kita lakukan, diantaranya adalah dalam membuat atau memberikan komentar yang sekiranya tak produktif atas informasi yang bersileweran di beranda akun kita. Semoga puasa kita hari ini makin membuat kita bijak dalam bertindak di urusan apapun. Insyaallah.

Penulis adalah Widyaiswara di BPSDMD Provinsi NTB

scroll to top