Close

Selembar Daun Menempel di Keningnya

Oleh : Cukup Wibowo

WARTA PERTIWI.COM – Ia memang menyukai puisi, bahkan bisa dibilang amat bersemangat bila diajak membahasnya. Tapi kalau kau bertanya kepadanya perihal puisi yang amat disukainya, dengan lugas ia katakan, “Puisi kekasihku.” Ia kemudian menggambarkan bagaimana puisi-puisi yang ditulis kekasihnya itu menjadi begitu mewarnai hidupnya. Puisi kekasihnya selalu bergemerisik selaksa daun menyapu pikiran dan perasaannya, mengajak bercengkerama dalam pertautan kebaikan dan kebajikan.

Kekasihnya kemudian menulis seluruh puisi untuknya di daun-daun. Tapi daun-daun itu bertebaran, melayang kesana kemari. “Lekatkan daun itu satu saja di keningmu, akan kau mengerti pesannya yang memang tertulis untukmu.” Selembut daun itu menempel, suara kekasihnya hilang ditelan angin. Ia sebenarnya ingin bertanya, bagaimana dengan daun-daun lain yang bertebaran di udara. Tapi pertanyaan itu seiring pesan kekasihnya, ia coba untuk mengerti sendiri. “Satu untukku, biarlah yang lain menyebar di udara sebagai kebaikan bagi yang lain.” Ia kemudian bergegas mengambil air wudhu seiring suara adzan lamat-lamat terdengar di kejauhan.

Penulis adalah Widyaiswara di BPSDMD Provinsi Nusa Tenggara Barat.

scroll to top