WARTA PERTIWI.COM, KUPANG (NTT) – Hama burung pipit saat ini menjadi musuh petani di sawah di Kelurahan Belo, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang.
Pasalnya, padi yang baru saja disemaikan di sawah dimakan atau dirusak oleh burung pipit yang sewaktu-waktu bergerombolan ke areal persemaian bibit padi yang ada di sawah.
Untuk menghalau ancaman tersebut, petani terpaksa secara bergantian menjaga area sawah mulai dari pagi sampai sore hari.
Salah petani sawah di Kelurahan Bello Kecamatan Maulafa Kota Kupang NTT, Yunus Takene (44) mengatakan, saat ini hama burung pipit menjadi ancaman sebagian besar petani terutama di lokasi persemaian.
“Ini kami baru saja semaikan bibit padi tetapi terpaksa mesti dijaga setiap hari mulai dari pukul 06.00 pagi sampai pukul 18.00 WITA. Ini kami lakukan karena serangan burung pipit selalu datang bergerombolan menjadi ancaman bagi kami,” jelas Yunus.
Dia menjelaskan, biasanya usia bibit padi yang disemaikan sekitar dua minggu sudah bisa ditinggal, karena sudah mulai tumbuh sedangkan usia untuk dipindahkan ke petak sawah guna ditanam sekitar tiga sampai empat minggu.
“Luas sawah yang saya miliki sekitar tiga are lebih dan saat ini dipasang kaleng yang diikat pakai tali ke sejumlah titik untuk mengusir burung,” jelas Yusak Takene pada Selasa, 28/1/2025).
Hal sama juga dilakukan Yuliana Bana (60) salah satu petani sawah di RT 05/RW 03 Kelurahan Bello.
Langkah yang dilakukan Yuliana adalah dengan memasang “orang-orangan” guna menakut-nakuti hama burung agar tidak menyerang dan memakan bibit padi miliknya yang baru disemaikan satu minggu terakhir.
“Ini dipasang kain dan orang-orangan untuk mengusir burung pipit,” kata Yuliana.
Yuliana Bana menambahkan, apabila ditinggal dalam hitungan jam maka burung akan datang bergerombol dalam jumlah banyak dan memakan bahkan merusak bibit padi yang meskipun sudah tumbuh akar, akibatnya bibit yang tumbuh menjadi berkurang.
“Saat awal-awal begini usia bibit satu sampai dua minggu kami mesti ekstra menjaga serangan burung pipit. Kadang saya kalau waktu makan siang, bergantian dengan ponaan yang juga sawahnya bersebelahan, karena kalau ditinggal sedikit saja burung masuk makan bibit padi yang ada,” tambahnya.(rio)



