Kupang, warta pertiwi.com – Ribuan pelayat dari umat lintas agama di Kota Kupang, Provinsi NTT mengantarkan jenazah imam diosesan (imam Projo) RD Yakobus Longga ke tempat peristirahatan terakhir di pemakaman imam Projo di Penfui, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (10/10/2026).
Prosesi pemakaman diawali dengan perayaan misa pemakaman yang dipimpin langsung oleh Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni.
Jenazah RD Yakobus Longga sebelumnya disemayamkan selama tiga hari di Kuasi Paroki Santo Petrus Haukoto, Paroki Santa Familia Sikumana, Kota Kupang. Dari tempat tersebut, jenazah kemudian diantar menuju pemakaman imam Projo di Penfui Sabtu siang.
Ribuan pelayat yang hadir terdiri atas umat Katolik, keluarga, kerabat, serta mereka yang mengenal almarhum semasa hidup dan pelayanannya sebagai imam.
Kehadiran para pelayat menjadi ungkapan penghormatan terakhir sekaligus dukacita atas kepergian seorang pelayan Gereja.
Perayaan misa pemakaman yang dipimpin Mgr. Hironimus Pakaenoni dan puluhan rekan imam selebran itu, menjadi bagian penting dari rangkaian penghormatan terakhir kepada almarhum.
Dalam suasana doa, umat menyerahkan perjalanan hidup dan pelayanan RD Yakobus Longga ke dalam penyelenggaraan kasih Tuhan.
Salah seorang pelayat, Yoppy Lati, mengenang RD Yakobus Longga, yang akrab disapa Romo Yalo, sebagai sosok imam muda yang ramah, murah senyum, dan mampu mencairkan suasana melalui humor-humor sederhana.
“Romo Yalo itu orangnya sangat akrab dengan siapa saja, murah senyum, dan selalu punya kalimat-kalimat humor yang membuat orang tertawa. Kenangan bersama beliau akan selalu melekat di hati kami. Kehadirannya membawa sukacita, sehingga kepergiannya menjadi kehilangan bagi kami yang mengenalnya,” ujar Yoppy.
Menurut dia, keramahan almarhum membuatnya mudah diterima oleh berbagai kalangan. Kenangan tentang sapaan, senyum, dan candaannya menjadi bagian yang sulit dilupakan oleh umat maupun orang-orang yang pernah berjumpa dengannya.
Ungkapan serupa disampaikan Jefri Sene, yang turut hadir untuk memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum.
Ia mengenang Romo Yalo sebagai imam muda yang baik hati, terbuka, dan mampu membangun kedekatan dengan siapa saja tanpa membatasi diri.
“Romo Yalo adalah pribadi yang baik hati, selalu dekat dengan siapa saja, dan murah senyum. Setiap kali bertemu, beliau sering melontarkan kalimat-kalimat humor yang membuat suasana menjadi akrab. Hal-hal sederhana seperti itulah yang membuat kami merasa dekat dengan beliau. Kami kehilangan sosok yang selalu membawa kehangatan dalam perjumpaan,” kata Jefri.
Bagi Jefri, kepergian almarhum bukan sekadar kehilangan seorang imam, tetapi juga kehilangan pribadi yang meninggalkan kenangan melalui sikap bersahabat dan cara berkomunikasi yang sederhana. Kenangan tersebut akan tetap hidup di tengah umat yang pernah mengenalnya.
Kepergian RD Yakobus Longga meninggalkan duka bagi umat dan orang-orang yang mengenalnya. Bagi umat Katolik, pemakaman seorang imam bukan hanya menjadi momen perpisahan, melainkan juga kesempatan untuk mengenang pengabdian serta pelayanan yang telah dijalankan selama hidupnya.
Setelah misa pemakaman, jenazah diantar menuju pemakaman imam Projo di Penfui, Kota Kupang. Di tempat itu, RD Yakobus Longga dimakamkan dalam suasana doa dan penghormatan dari umat yang mengiringinya hingga akhir perjalanan.
Prosesi tersebut menandai berakhirnya perjalanan hidup almarhum di dunia sekaligus menjadi momen penyerahan iman bagi keluarga, rekan imam, dan umat yang ditinggalkan.
Bagi mereka yang hadir, penghormatan terakhir itu menjadi ungkapan kasih dan penghargaan atas kehidupan seorang imam yang telah menjalani panggilan pelayanan Gereja.(*/Rio)



