Kupang, warta pertiwi.com – Renungan Harian Katolik dari Bruder Pio Hayon SVD, Hari Selasa Biasa Pekan XXVIII – 13 Oktober 2026 merujuk pada
Bacaan I: Gal. 4: 31b–5: 6 dan Injil: Luk. 11: 37-41
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Pinggan dan cawan bisa tampak bersih di bagian luar, sementara bagian dalamnya masih kotor.
Yesus memakai gambaran sederhana ini untuk mengingatkan bahwa kesalehan sejati tidak berhenti pada penampilan atau kebiasaan keagamaan.
Tuhan melihat hati sebagai tempat sikap, niat, dan kasih kita bertumbuh.
Saudara-saudari terkasih.
Paulus pada bacaan ini (Gal. 4:31b–5:6) menegaskan bahwa Kristus telah memanggil kita kepada kebebasan.
Karena itu, orang beriman tidak perlu mengandalkan tanda lahiriah atau aturan sebagai dasar pembenaran diri. Yang berarti dalam Kristus adalah iman yang bekerja melalui kasih.
Kebebasan Kristiani bukan kebebasan untuk berbuat sesuka hati, melainkan kebebasan untuk mengasihi dan melayani. Iman yang sejati tampak dalam tindakan kasih, bukan hanya dalam identitas atau tanda lahiriah.
Dan dalam Injil (Luk. 11:37-41), berkisah tentang Yesus yang diundang makan oleh seorang Farisi. Tuan rumah heran karena Yesus tidak membasuh diri sebelum makan menurut kebiasaan mereka.
Yesus lalu mengkritik orang-orang yang sangat memperhatikan kebersihan luar, tetapi mengabaikan keadaan batin mereka. Ia mengajak mereka membersihkan bagian dalam dengan memberi sedekah dan berbagi.
Kesucian tidak hanya berkaitan dengan ritual atau penampilan, tetapi terutama dengan hati yang bersih, penuh belas kasih, dan rela berbagi.
Refleksi kita adalah “Rawatlah kebersihan hati”: Kita dapat tampak saleh di hadapan orang lain, tetapi masih menyimpan iri hati, kesombongan, atau kebencian.
Refleksi kita: Sikap apa di dalam hati kita yang perlu dibersihkan agar kita semakin tulus di hadapan Tuhan dan sesama? “Iman perlu kasih”: Paulus mengingatkan bahwa yang penting bukan tanda lahiriah, melainkan iman yang nyata dalam kasih.
Refleksi kita: Apakah iman kita terlihat dalam cara kita memperlakukan keluarga, rekan kerja, dan orang yang membutuhkan? “Berbagi kasih”: Yesus mengarahkan perhatian pada kemurahan hati, bukan sekadar kepatuhan pada kebiasaan luar.
Berbagi bukan hanya soal harta, tetapi juga waktu, perhatian, dan pengampunan. Refleksi kita: Apa yang dapat kita bagikan hari ini dengan tulus kepada seseorang yang membutuhkan?
Saudara-saudari terkasih,
Pesan untuk kita, pertama, sabda hari ini mengajak kita untuk tidak hanya membersihkan “bagian luar” kehidupan, tetapi juga membarui hati.
Kedua, kebebasan dalam Kristus menjadi nyata ketika iman kita menghasilkan kasih dan kemurahan hati.
Ketiga, marilah kita memohon agar Tuhan membersihkan hati kita sehingga hidup kita menjadi berkat bagi sesama. Tuhan memberkati kita.(*/Rio)

