Kupang, warta pertiwi.com – Renungan Harian Katolik Hari Jumat Biasa Pekan XXVIII – 16 Oktober 2026 dari Bruder Pio Hayon SVD merujuk pada Bacaan I: Ef. 1: 11-14 dan Injil: Luk. 12: 1-7.
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Pada hari ini, kita diajak untuk merenungkan sabda Tuhan yang sangat meneguhkan hati, khususnya di tengah berbagai kecemasan hidup yang seringkali menghimpit kita.
Melalui tema “Kamu lebih berharga”, kita diajak untuk menyadari betapa besarnya kasih dan kepedulian Allah kepada setiap pribadi manusia.
Kalimat sederhana ini menjadi dasar bagi setiap orang beriman untuk berdiri tegak, tidak takut, dan hidup dengan penuh pengharapan.
Saudara-saudari terkasih.
Dalam Bacaan Pertama dari Surat kepada Jemaat di Efesus (Ef. 1: 11-14), Santo Paulus mengingatkan umat bahwa di dalam Kristus kita telah menerima bagian kita dan dimateraikan dengan Roh Kudus, yang menjadi jaminan bagi bagian warisan kita.
Allah telah merencanakan keselamatan ini bagi kita sejak semula agar kita menjadi pujian bagi kemuliaan-Nya.
Sementara itu, dalam Injil Lukas (Luk. 12: 1-7), Yesus mengingatkan para murid-Nya untuk mewaspadai ragi orang Farisi, yakni kemunafikan.
Namun, di bagian selanjutnya, Yesus memberikan peneguhan yang luar biasa mengenai pemeliharaan Allah. Burung pipit yang murah harganya saja tidak dilupakan oleh Allah, apalagi rambut di kepala kita yang semuanya telah terhitung.
Sabda ini berpuncak pada penegasan yang penuh kasih: “Jangan takut, kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Refleksi kita adalah “Nilai Diri di Mata Allah”:
Seringkali kita merasa kecil, tidak penting, atau diabaikan oleh dunia. Namun, Kitab Suci menegaskan bahwa nilai kita tidak ditentukan oleh pandangan sesama atau pencapaian duniawi, melainkan oleh kasih Allah yang menciptakan dan menebus kita.
Di hadapan-Nya, kita jauh lebih berharga daripada seluruh ciptaan alam semesta. “Melepaskan Diri”: Hidup ini penuh dengan ketidakpastian yang sering memicu kecemasan akan hari esok.
Yesus mengajak kita untuk mengalihkan pandangan dari ketakutan kepada iman yang hidup. “Hidup Autentik”: Peringatan Yesus tentang ragi orang Farisi (kemunafikan) mengajarkan kita untuk hidup jujur, transparan, dan tulus di hadapan Allah dan sesama.
Ketika kita menyadari bahwa hidup kita sepenuhnya berada dalam pemeliharaan Allah yang Mahatahu, kita tidak perlu lagi mengenakan topeng kepalsuan untuk mencari pujian manusia.
Saudara-saudari terkasih,
Pesan untuk kita, pertama, Allah Bapa sungguh mengasihi kita dan senantiasa memelihara setiap langkah hidup kita dengan penuh kepedulian.
Kedua, kesadaran akan betapa berharganya diri kita di hadapan-Nya, mengusir segala ketakutan dan membimbing kita untuk hidup jujur dalam iman.
Ketiga, semoga rahmat Tuhan memberkati langkah hidup kita hari ini dan selamanya. Tuhan memberkati kita.(*/Rio)

