Kupang, warta pertiwi.com – Pemerintah Kabupaten Kupang mendorong pembentukan tim kesiapsiagaan bencana di setiap sekolah, desa, dan kecamatan sebagai upaya membangun budaya siaga bencana di seluruh wilayah.
Hal ini diungkapkan Bupati Kupang, Yosef Lede, SH, dalam rangkaian kegiatan Simulasi Evakuasi Mandiri di Sekolah Dasar yang dilaksanakan bersama BPBD Kabupaten Kupang, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), Save the Children dan Yayasan CIS Timor Indonesia melalui Program Generation Ready (GENRE).
Kegiatan yang berlangsung pada 28–30 Oktober 2026 di sejumlah sekolah di Kabupaten Kupang ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi ancaman bencana, khususnya melalui pembaruan prosedur tetap (protap), penguatan sistem peringatan dini ramah anak, serta praktik evakuasi mandiri yang melibatkan seluruh warga sekolah.
Bupati Kupang Yosef Lede mengapresiasi BPBD Kabupaten Kupang, FPRB Kabupaten Kupang, Save the Children Indonesia, Yayasan CIS Timor Indonesia yang didanai oleh Pemerintah Australia melalui Australian NGO Cooperation Program (ANCP) atas kolaborasi dan komitmen bersama dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana.
“Jangan menunggu bencana datang untuk belajar bersiap. Saya mendorong agar tim kesiapsiagaan bencana dibentuk di setiap sekolah, desa, dan kecamatan. Kita harus membangun budaya siaga bencana di seluruh wilayah Kabupaten Kupang melalui edukasi, sosialisasi, dan simulasi yang dilakukan secara berkelanjutan,” tegasnya.
Sementara itu, Yosep Tapun, Project Manager Program GENERATION Ready (GENRE) dari Save the Children, menekankan pentingnya mengubah cara pandang terhadap anak dalam upaya pengurangan risiko bencana.
Menurutnya, anak bukan hanya kelompok yang harus dilindungi, tetapi juga memiliki pengetahuan, kemampuan, dan suara yang penting dalam membangun kesiapsiagaan.
“Melalui Program GENERATION Ready (GENRE), anak didorong untuk mengenali risiko, menyampaikan gagasan, berpartisipasi dalam perencanaan keselamatan sekolah, serta mengingatkan keluarga dan komunitasnya. Kami ingin anak-anak tidak hanya tahu bagaimana menyelamatkan diri, tetapi juga memiliki kapasitas dan ruang untuk ikut menyelamatkan orang lain,” ungkap Yosep.
Ia menambahkan, sekolah tangguh bukan sekadar sekolah yang memiliki fasilitas dan prosedur kebencanaan, tetapi sekolah yang mampu memastikan setiap anak, termasuk anak perempuan dan anak penyandang disabilitas, tidak tertinggal dalam upaya perlindungan.
Dari sisi pelaksanaan, Imelda Adu, Project Manager Program Program GENERATION Ready (GENRE) dari Yayasan CIS Timor Indonesia, menjelaskan bahwa simulasi dirancang untuk menjadi latihan yang dilakukan secara berkala dan mandiri oleh sekolah. Melalui dukungan Program Program GENERATION Ready (GENRE), simulasi direncanakan berlangsung dua kali dalam setahun.
“Pada semester pertama, sekolah mulai mengukur waktu evakuasi, mulai dari proses keluar kelas hingga tiba di titik kumpul, termasuk keseluruhan waktu pelaksanaan simulasi. Hasil pengukuran ini akan menjadi bahan evaluasi pada semester berikutnya agar sekolah dapat memperbaiki waktu evakuasi, meningkatkan kepercayaan diri, dan mampu menjadi contoh bagi sekolah lainnya,” jelas Imelda.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama pendampingan bukan sekadar membuat simulasi terlaksana, tetapi memastikan anak-anak memahami tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi darurat, sehingga mampu menyelamatkan diri dan membantu teman-temannya dengan tetap memperhatikan keselamatan bersama.
Melalui Program Generation Ready (GENRE), Save the Children bersama Yayasan CIS Timor Indonesia mendorong sekolah untuk memperkuat Tim Siaga Bencana Sekolah, memperbarui prosedur evakuasi, mengembangkan sistem peringatan dini yang ramah anak dan inklusif, serta membangun keterlibatan aktif anak dalam kesiapsiagaan.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan bencana harus dibangun sebelum bencana terjadi. Dengan kolaborasi pemerintah, sekolah, keluarga, masyarakat, dan mitra pembangunan, Kabupaten Kupang diharapkan dapat membangun generasi yang tidak hanya tangguh menghadapi bencana, tetapi juga mampu menjadi bagian dari solusi untuk melindungi sesama.(*/Rio)

