Close

Antara Pemimpin, Hutan, dan Kesejahteraan Rakyat

Sebuah catatan kepemimpinan di Tanah Jawa

Oleh Nanang Sutrisno/ Rakryan Mahisa Wungatelang

Rahayu Mulyaning Jagat

WARTA PERTIWI.COM – Tradisi kepemimpinan di Tanah Jawa banyak digembleng di Hutan, yang dalam bahasa Jawa disebut Alas. Dari sini lah lahir istilah ” Setan Alas” konon merupakan setan yang paling ganas.

Ya, hutan merupakan kawah Candradimuka atau tempat pendadaran bagi para pemimpin tanah Jawa.

Menurut berbagai sumber, tanah Jawa dulunya adalah hutan lebat, Gung Liwang Liwung yang dipenuhi aneka bentuk setan, demit, banaspati, dan lain sebagainya.

Mereka akan memangsa setiap manusia yang  merambah atau tersesat di hutan, “Janma Moro, Janmo Mati”

Dalam kisah  pewayangan Mahabharata, dikisahkan bagaimana kiprah para Pandawa membuka hutan Kamiaka/ Wanamarta untuk mendirikan Kerajaan Indraprasta yang disebut juga Amarta.

Kisah para Pandawa membuka hutan, menginspirasi para pemimpin Tanah Jawa untuk juga melakukan hal yang sama. Mpu Sindok membabat Hutan Medang disekitar Nganjuk dan mendirikan Kerajaan Medang, Prabu Airlangga membersihkan Hutan  Watanmas  Wanagiri di Pasuruan kemudian berdirilah Kerajaan Kahuripan, Raden Wijaya membuka alas Tarik/ Terik dan mendirikan Majapahit atau yang disebut juga Wilwatikta, hingga Ki Ageng Pamanahan yang membuka Hutan Mentok sebagai cikal bakal Kerajaan Mataram.

Membuka hutan adalah sebuah bentuk nyata  kepeloporan dari seorang pemimpin, kemudian membuat sebuah pranata, yang kelak dalam bahasa modern disebut sistem. Sosok yang membuka hutan, oleh orang Jawa disebut Dang Hyang, jadi Dang Hyang itu bukan setan, jin atau siluman seperti salah kaprah selama ini.

Seorang Dang Hyang bisa juga disebut Ki Ageng, Ki Gede, Ki Lurah, Ki Buyut, atau apapun tergantung wilayah yang dibuka dan kemudian dipimpinnya.

Sang Hyang Agung Tuhan Yang Maha Esa, membekali pemimpin tanah Jawa  dengan berbagai kekayaan yang ada dalam hutan, mulai dari buah, kayu, satwa, ikan, dan yang lain-lain. Belum lagi alam hutan  yang dikelola menjadi persawahan dan kebun. Seperti kata Koes Ploes, tanah kita adalah tanah surga, tongkat dan batu jadi tanaman.

Pemerintah Indonesia menyadari betul, potensi kekayaan dari hutan yang  ada, apalagi di sini kebanyakan adalah hutan campur, bukan hutan sejenis. Sehingga hasil komoditi nya melimpah dan beraneka warna.

Sebagai bentuk rasa syukur dan  komitmen hasil hutan untuk kemakmuran rakyat, pemerintah Republik Indonesia pernah mengeluarkan mata uang logam bergambar gunungan wayang dengan tulisan hutan untuk kemakmuran rakyat.

Menjaga keseimbangan alam , termasuk memanfaatkan hutan untuk kepentingan rakyat yang seluas luasnya merupakan bentuk pengejawantahan kesadaran sebagai mahkluk mulia ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang harus dikembangkan oleh seorang pemimpin.

Ingatlah Pemimpin, Hutan/Alam, Kemakmuran Rakyat adalah mata rantai yang tidak terpisahkan. Jangan seperti yang pernah terjadi di masa lalu, dimana hutan dibagi bagi sebagai bentuk konsesi kepada segelintir orang saja.

Rahayu

Wakil Ketua Bidang Manuskrip dan Prasasti Badan Kebudayaan Nasional (BKN) Provinsi Jawa Timur.

scroll to top