Oleh : Cukup Wibowo
WARTA PERTIWI.COM – Dari abad ke abad yang kemudian melahirkan kisah demi kisah, cinta adalah kisah yang selalu hadir pada setiap sejarah melahirkan ceritanya. Begitulah, cinta selalu muncul dalam plot utama kehidupan manusia. Itu juga yang membuat cinta menjadi kisah paling abadi dalam sejarah umat manusia.
Bila peradaban dimulai dari sebuah kisah, maka cinta dalam kehidupan manusia sesungguhnya dimulai dari ketika Tuhan memberi Adam pasangan hidup bernama Siti Hawa. Kegembiraan cinta yang melahirkan rasa nikmat yang luar biasa itulah yang membuat setan tak bisa menahan rasa cemburunya kepada Adam. Hanya diciptakan dari tanah saja kenapa harus mendapat penghormatan dari kami yang lebih hebat? Aku dari api, dan malaikat dari cahaya tapi kenapa yang dari tanah harus dianggap lebih mulia dan kami harus tunduk padanya? Begitulah kira-kira yang dirasakan setan, yang kemudian dengan sangat marahnya merancang perangkap agar bisa menghancurkan kehidupan mereka.
Setan masuk di rasa kemelayangan cinta keduanya lewat jebakan buah khuldi, buah yang sejak awal telah diketahui oleh Adam sebagai larangan Tuhan untuk didekati apalagi dimakan. Di kisah cinta yang diperankan oleh Adam dan Hawa, kita makin mengetahui betapa hebatnya setan “masuk” lewat jalan cinta, melalui Hawa yang sangat dicintai oleh Adam. Keberhasilan setan dalam menggoda Adam melalui permintaan Hawa itulah yang kemudian kita kenal sebagai petaka pertama yang diakibatkan oleh cinta dalam kehidupan manusia, ketika nafsu Adam demi atas nama cintanya terhadap Hawa, berani melawan perintah Tuhan Sang Penciptanya. Oleh perbuatannya itu, Adam dan Hawa harus menerima hukuman untuk dibuang ke bumi dalam keadaan saling terpisah.
Kisah Adam dan Hawa seolah menjadi inspirasi bagi para pujangga dan penyair di setiap zamannya, melukiskan dengan caranya yang khas atas keluarbiasaan dan pesona yang dihadirkan oleh cinta. Ya, cinta adalah alasan kenapa rindu dan cemburu muncul begitu kuatnya dalam diri siapa saja yang mengalami. Tak terhitung rasanya kisah yang diceritakan bagaimana cinta kekasih pada kekasihnya bisa menciptakan fragmen keyakinan dalam satu pilihan keputusan, hidup atau mati. Terlebih ketika hasrat dan cemburu sudah melilit rasa cinta itu.
Namun bagi para sufi, cinta hanya ditujukan kepada Tuhan, walaupun dalam kesempatan yang sama cinta dapat ditujukan kepada ciptaan-Nya. Itu yang kemudian dikatakan oleh penyair sufi, Jalaluddin Rumi, “Kesalahan bukan karena mencintai ciptaan-Nya, tetapi ketidakmampuan untuk memahami bahwa ciptaan-Nya hanyalah bayangan yang memantulkan wajah asli dari sebuah cermin, yaitu kekasih sejati.”
Dalam buku Jalan Cinta Sang Sufi: Ajaran-ajaran Spiritual Jalaluddin Rumi, yang ditulis oleh William C. Chittick (2001: 303), Rumi merangkainya dalam sebait puisi, “Dia adalah setetes air dari lautan tidak terbatas, atau sebuah cahaya yang memantul pada dinding. Semua kecintaan berasal dari dimensi lain yang lebih tinggi, sedangkan yang tertinggal di sini adalah pinjaman dan kesementaraan, karena cinta yang sesungguhnya hanya ada pada diri Tuhan itu sendiri.”
Puasa Ramadan adalah perintah keimanan. Ia menjadi wujud kerinduan kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik, penghambaan diri pada yang memiliki hak atas hidup dan mati kita. Tubuh yang senantiasa dililit nafsu, melalui puasa kita lepaskan untuk hanya mengikuti kehendak-Nya. Puasa menjadikan kita makin tahu arti nikmat mencintai-Nya dengan sepenuh rindu, tanpa nafsu apalagi cemburu. Ketaatan kita adalah wujud dari kerinduan kita untuk bisa masuk dan dimasukkan dalam golongan yang bertaqwa.
Kesungguhan kita dalam berpuasa selama bulan Ramadan adalah cara terbaik untuk membuat nafsu kita akan sesuatu bisa kita kendalikan. Sebagaimana setan mencemburui kehidupan manusia yang dipilih Tuhan sebagai makhluk yang lebih mulia darinya, maka puasa menjadi cara kita belajar atas buruknya kecemburuan kita pada sesama, pada kehidupan orang lain. Wallauhu a’lam bish-shawab.
Penulis adalah Widyaiswara di BPSDMD Provinsi NTB



