Penulis Anugrah Prasetyo
Kisah Kepedulian Cak Oga, Sang Singa Jalanan
WARTA PERTIWI – Indonesia dikenal sebagai negeri yang subur dan kaya sumber daya alam. Seharusnya, kekayaan itu mampu menyejahterakan seluruh rakyatnya. Namun kenyataan masih jauh dari harapan: banyak warga miskin hidup dalam kondisi yang menyedihkan. Di tengah situasi ini, muncul sosok sederhana yang konsisten bergerak tanpa pamrih Anugrah Prasetyo, atau yang akrab disapa Cak Oga.
Pengabdian Tanpa Pamrih
Selama lebih dari 15 tahun, Cak Oga mendampingi masyarakat yang membutuhkan tanpa menerima gaji dari pemerintah maupun lembaga lain. Gerakannya murni lahir dari hati nurani, dibiayai dari kantong pribadi, meski kondisi ekonominya hanya pas-pasan. Dengan motor tua satu-satunya, yang bahkan harus bergantian dengan anaknya, ia tetap setia menemani warga yang membutuhkan pendampingan.
Sosok yang dikenal luas
Nama Cak Oga tidak asing di telinga masyarakat Surabaya, Sidoarjo, Gresik, hingga kota-kota lain. Ia hadir mendampingi warga tanpa memungut biaya, membuktikan bahwa kepedulian tidak mengenal batas wilayah. Berbeda dengan banyak rekan seangkatannya yang kini bekerja di kantor dengan gaji cukup, Cak Oga memilih jalan yang lebih berat: membantu mereka yang benar-benar membutuhkan.
Filosofi Kesetaraan
Bagi Cak Oga, semua orang memiliki kedudukan yang sama. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semua berhak diperlakukan dengan adil, tanpa diskriminasi atau perbedaan status sosial. Filosofi ini tercermin dalam semboyan: “Duduk sama rata, berdiri tanpa raja.”
Keberanian dan Independensi
Cak Oga pernah dikenal sebagai “Singa Jalanan” karena keberaniannya mengkritisi pemerintah. Namun penting digarisbawahi, ia bukan kader partai politik, bukan anggota ormas, dan bukan bagian dari LSM. Gerakannya murni independen, lahir dari kepedulian terhadap sesama.
Warisan Semangat
Kini, ketika sosok Cak Oga mulai jarang terlihat, banyak sahabat merindukan keberanian dan kepeduliannya. Semangatnya menjadi teladan bahwa kepedulian tidak membutuhkan jabatan, dan keberanian tidak harus lahir dari kekuasaan. Ia mengajarkan bahwa semua orang bisa duduk sama rata, berdiri tanpa raja.
Penulis adalah Penggiat Sosial

