Close

Hegemoni Setan

Catatan Ramadan

Oleh : Cukup Wibowo

WARTA PERTIWI.COM – Kisah Adam dan Hawa yang harus terusir dari surga karena lebih mengikuti bujuk rayu setan dengan cara memakan buah dari pohon khuldi dibanding harus mengikuti perintah Allah, yang sejak awal memang sudah melarang, meskipun hanya sekedar untuk mendekat dan menyentuhnya saja. Kenapa perintah Allah yang jelas-jelas mengandung kebaikan bagi keduanya masih juga mereka langgar? Tidak lain jawabannya adalah karena kepiawaian setan dalam merayu dengan iming-iming kenikmatan, kesenangan, dan harapan. Kisah yang tertulis dalam kitab suci itu  adalah pembelajaran yang tak ternilai bagi kita untuk lebih dalam memahami arti kesenangan yang menyesatkan.

Sadar atau tidak, kehidupan yang kita jalani baik yang sudah lewat maupun yang akan datang tak akan pernah berhenti untuk terus mempertontonkan bujuk rayu dan penolakan hati secara simultan. Tak pernah putus-putusnya hati dan pikiran kita  digoda, dirongrong, dan dibujuk rayu untuk senantiasa berada pada posisi dilematis atas tindakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh,  mana yang semestinya dan mana yang tak layak untuk disebut seharusnya.

Kesanggupan kita untuk taat terhadap apa yang telah digariskan dalam rumusan “perintah dan larangan” atau lazim disebut keimanan selalu fluktuatif. Naik-turun atau bahkan sewaktu-waktu bisa berubah. Terkadang seseorang berada di puncak keimanannya, yaitu keadaan yang membuatnya begitu bersemangat dalam melakukan ibadah. Tapi juga terkadang ada suatu kondisi, dimana dirinya mengalami masa-masa di bawah, sangat malas untuk mengerjakan suatu ibadah. Kondisi seperti ini lazim disebut futur, yang dalam bahasa bisa didefinisikan sebagai “diam setelah intensitas tinggi, yaitu setelah melakukannya dengan usaha keras”.

Kita memang bukan malaikat yang diciptakan Allah hanya untuk merepresentasikan ketaatan dalam menjalankan perintah. Tapi kita juga tak ingin terjebak dalam keadaan futur yang bisa membuat diri tak ubahnya makhluk pengingkar atas semua perintah Allah Yang Maha Benar. Menggambarkan kebenaran Allah itu, Buya Hamka pernah mengibaratkannya dengan air hilir. Dia pasti menuruti aturan yang ditetapkan Allah SWT, yaitu mengalir ke tempat yang lebih rendah, mengisi tempat yang kosong yang didapatinya dalam pengaliran tersebut. Apa yang digambarkan Hamka adalah realitas dari hukum sebab-akibat atau hukum kausalitas, yang dalam Islam diyakini bahwa pada hakikatnya bukanlah sebab-sebab itu yang membawa akibat. Namun, akibat itu muncul karena Allah SWT yang menghendakinya.

Dalam kehidupan nyata yang kita jalani senyatanya kita memang tak bisa mengelak dari kuatnya tarik menarik hegemoni kebaikan dan keburukan. Kerja setan dengan segala kehebatannya adalah dengan cara menempatkan dirinya tidak sebagai oposisi melainkan satu posisi dalam  ruang persekutuan dengan hawa nafsu yang kita miliki. Hawa nafsu kita adalah ruang yang gampang berkobar selaksa api yang merupakan asal dari terciptanya setan. Maka melalui ruang persekutuan inilah setan menggerakkan dan mendiktekan kehendaknya untuk membuat kita terus bergairah dalam kerakusan, ketamakan, dan cara-cara buruk lainnya untuk terus memburu kesenangan dunia.

Berbagai rupa kesenangan itu tak ubahnya sajian yang tertata dengan  begitu cantik dan menggiurkannya hingga panca indra kita serasa terkooptasi tanpa daya.

Meski brilian dengan kerjanya tak berarti setan tak bisa dikalahkan. Menjalankan perintah Allah dengan kesungguhan serta keyakinan akan Kebenaran-Nya adalah cara benar menaklukkan hegemoni setan, yang dengan segala piranti lunak dan kerasnya berupaya untuk menguasai diri kita.

Puasa sebagai salah satu perintah Allah adalah cara benar yang tak terbantahkan untuk bisa menjadi alat penaklukan atas hegemoni tersebut. Tak hanya menjadi sebuah cara, puasa bahkan juga bisa menjadi antitesa rasa atas kebahagiaan,yang tak selalu dirupakan dalam wujud kesenangan.

Sejak zaman Nabi Adam hingga akhir zaman nanti, setan memang tak akan pernah berhenti untuk terus menggoda kita. Namun kita harus selalu percaya, bujuk rayunya yang hebat akan mudah kita patahkan oleh hakikat yang terkandung dalam pembelajaran puasa. Dengan tetap memanjatkan doa yang paling sering dibaca oleh nabi di dalam do’a nya yaitu “Wahai yang Maha membolak-balikkan hati manusia, tetapkanlah hatiku di atas agamaMu” semoga puasa kita hari ini makin dimudahkan Allah dengan makin kuatnya kesadaran kita untuk terus waspada terhadap hegemoni setan yang tak pernah putus asa  menggoda kita. _Wallauhu a’lam bish-shawab_.

scroll to top