Close

Jagung Pulut, Primadona Hasil Tani yang Paling Dicari Umat di Kapela Bello NTT

Umat membeli jagung pulut di Lapak Tani Bello seusai misa Minggu pagi di Kapela Santo Agustinus Bello, Kupang.

Kupang, warta pertiwi.com – Jagung pulut menjadi salah satu hasil pertanian yang paling banyak diburu umat seusai mengikuti misa pertama dan kedua di Kapela Santo Agustinus Bello, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Jagung pulut yang dijual petani di Lapak Tani Bello itu ditawarkan dengan harga relatif terjangkau, yakni enam seharga Rp10.000. Sementara jagung pulut yang sudah direbus dijual Rp5.000 per batang.

Lapak Tani yang berada di depan Kapela Santo Agustinus Bello hanya ramai setiap Minggu pagi. Sejumlah petani memanfaatkan kesempatan itu untuk menjajakan hasil kebun kepada umat dan masyarakat sekitar, sekaligus memperpendek rantai penjualan hasil pertanian dari petani kepada konsumen.

Selain jagung pulut, para pedagang menawarkan beragam hasil pertanian dan makanan olahan rumahan. Di antaranya sayuran segar, bubur kacang hijau, keripik pisang, kue cucur, serta sejumlah jajanan lainnya.

Namun, pada Minggu pagi itu, jagung pulut menjadi komoditas yang paling menarik perhatian. Seusai misa, umat terlihat mendatangi lapak dan membeli jagung untuk dibawa pulang maupun disantap setelah mengikuti ibadah.

Salah seorang penjual jagung pulut, Dortia Tuan, mengatakan jagung yang dijualnya merupakan hasil pertanian yang dibawa langsung ke lapak.

“Pagi ini jagung pulut banyak yang cari. Harganya enam buah Rp10.000. Kalau yang sudah direbus, Rp5.000 satu batang,” kata Dortia.

Menurut dia, penjualan langsung di Lapak Tani memberikan kesempatan kepada petani untuk menawarkan hasil kebun tanpa harus membawa seluruh hasil panen ke pasar.

Penjual lainnya, Yuliana Baitanu, yang menjajakan sayuran segar, mengatakan keberadaan Lapak Tani membantu warga memperoleh kebutuhan pangan sekaligus memberi ruang bagi petani untuk menjual hasil kebun.

“Sayur yang kami bawa masih segar karena langsung dari kebun. Jadi setelah panen, kami bawa ke sini untuk dijual kepada umat,” ujar Yuliana.

Ia mengatakan pembeli tidak hanya berasal dari umat yang mengikuti misa, tetapi juga masyarakat sekitar yang sengaja datang untuk berbelanja.

Salah seorang pembeli, Yulius Akoit, mengaku senang berbelanja di Lapak Tani Bello. Ia bersama istrinya kerap memanfaatkan kesempatan tersebut setelah mengikuti misa pada Minggu pagi.

 “Setiap Minggu setelah misa, saya dan istri sering mendapatkan kesempatan berbelanja di Lapak Tani Bello. Harganya terjangkau, tetapi yang penting sayur-sayurnya masih segar karena langsung dari kebun petani sekitar,” kata Yulius.

Menurut Yulius, jagung pulut menjadi salah satu hasil pertanian yang menarik dibeli karena dapat langsung dikonsumsi setelah direbus atau dibawa pulang untuk keluarga.

Lapak Tani Bello menjadi salah satu ruang pemasaran hasil pertanian warga yang mempertemukan petani dan konsumen secara langsung.

Aktivitas itu juga memberi kesempatan kepada warga untuk menjual makanan olahan rumahan dan hasil kebun tanpa harus membuka lapak setiap hari.

Bagi petani, kegiatan tersebut bukan sekadar tempat berjualan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan hasil pertanian lokal kepada masyarakat.

Sementara bagi umat dan masyarakat sekitar, Lapak Tani memberi pilihan untuk memperoleh bahan pangan segar dengan harga yang relatif terjangkau, terutama setelah mengikuti misa pada Minggu pagi.(*/Rio)

scroll to top