Oleh : Cukup Wibowo
WARTA PERTIWI.COM – Tubuh manusia memang luar biasa. Selain panca indera dengan fungsi-fungsi yang memberi nikmat yang melekat pada masing-masingnya, Tuhan juga memberinya dua kenikmatan yang berpadu padan, ialah nikmat perasaan (emosionalitas) dan nikmat pikiran (rasionalitas). Hal inilah yang menjadikan manusia berbeda dengan makhluk hidup lainnya.
Perasaan adalah keadaan batin sewaktu menghadapi (merasai) sesuatu, yang membuat seseorang bisa menghasilkan kerja yang memuasakan saat batinnya gembira. Oleh kuatnya perasaan pula, seseorang memiliki kesanggupan untuk bisa merasa atau merasai sesuatu atas pertimbangan batinnya. Itu membuatnya bisa mendeteksi kalau sesuatu itu tidak benar.
Demikian juga dengan nikmat pikiran yang dimiliki oleh seseorang. Dengan pikiran yang dimilikinya, seseorang bisa membentuk konsep, terlibat dalam pemecahan masalah, melakukan penalaran, dan membuat keputusan yang hasilnya dirasakan oleh orang lain.
Nikmat yang begitu banyak dianugerahkan Tuhan kepada kita justru mulai menjadi kesulitan bila seseorang tak bisa mengelola dengan baik anugerah atas pikiran yang dimilikinya. Dalam tindakan yang diawali oleh pikiran, dua hal bisa diproduksi sekaligus, yaitu gagasan baik maupun gagasan buruk. Yang pertama jelas arahnya, karena sesuatu yang baik maka tak akan pernah bermasalah sejak awal hingga akhirnya. Sementara untuk yang kedua justru perlu kecermatan tingkat tinggi untuk bisa menangkap pergerakannya, karena gagasan buruk itu kerap mengecoh di awalnya dengan cara dibungkus oleh keseolah-olahan. Dan yang namanya keseolah-olahan memang banyak terbukti sering memukau di permulaannya.
Tapi waktu memang sudah mengemban tugas dari Tuhan melalui firmannya yang tegas: Demi Waktu. Di dalam ketegasan itu terkandung dua hal, kemanfaatan dan kerugian yang saling beriringan setiap saat.
Meski seandainya tampak sama, antara yang baik dan yang buruk sesungguhnya sejak semula sudah terlihat berbeda. Yang baik tak membutuhkan strategi, tak perlu direkayasa sedemikian rupa untuk menghasilkan kebaikan hasil karena kebaikan akan menunjukkan sendiri citra dirinya tanpa harus dimanipulasi. Berbeda halnya dengan hal yang buruk, ia tak hanya butuh siasat melainkan juga kamuflase untuk membuatnya enak dilihat, didengar, maupun dirasa.
Pada persinggungan yang tak bisa dihindarkan, sesungguhnya rumusan kebaikan dan keburukan itu mudah untuk diidentifikasi. Dalam interaksi personal maupun sosial hal yang tak bisa dipungkiri adalah munculnya pujian atau kritik dari satu pihak ke pihak lainnya. Baik pujian maupun kritik, keduanya sesungguhnya sama pentingnya untuk membuat tindakan makin menemukan orientasi kebaikan yang ditujunya.
Pujian diperlukan untuk membuat apa-apa yang sudah jadi tindakan terbukti tidak sia-sia. Siapapun pastinya senang bila tindakannya dipuji bermanfaat atau bahkan disebut berhasil. Pujian mestinya bisa makin membuat langkah berikutnya menjadi jelas tolok ukur keberhasilannya. Jadi tak sepenuhnya benar bila ada yang mengatakan pujian itu sesungguhnya menyesatkan.
Pun juga dengan kritik, ia diperlukan untuk membuat kekurangan, kekeliruan atau kesalahan bisa diperbaiki. Itu sebabnya kritik menjadi sangat disukai oleh mereka yang berpikiran obyektif saat dirinya dikritik karena kritik selalu menyertakan solusi, atau sekurangnya alternatif-alternatif yang bisa dipilih untuk menjadi sebuah keputusan.
Penguasa yang baik akan bersedia melombakan kritik sebagai cara untuk memperoleh masukan yang diperlukan bagi keputusan atau kebijakan yang hendak diambil.
Masalahnya, banyak di antara kita yang keliru menerjemahkan kritik. Asal mengulas sesuatu dengan mengedepankan “kekurangan” atau “kekeliruan” maka itu sudah bisa disebut kritik. Makin rajin mengolah kekurangan dan kekeliruan, makin dianggap hebat. Tak perduli tanpa solusi, yang penting bagaimana caranya untuk bisa membicarakan kekeliruan dan kekurangan.
Apakah kita harus menjadi bagian seperti itu? Insyaallah tidak. Karena prilaku seperti tergambar di atas tak ubahnya kenyinyiran yang membuat panca indera kehilangan kemuliannya. Oleh sebab itu, kita memilih untuk berpuasa. Ya, puasa adalah laku kesadaran bagi tertibnya perasaan dan pikiran. Kita memilih jalan menuju pikiran yang sehat, pikiran yang senantiasa berpedoman pada kebaikan.
Semoga puasa kita hari ini makin membuat kita memiliki kesanggupan untuk membiasakan diri pada cara menertibkan panca indera pada kesemestian yang bermanfaat. Bertutur dan berprilaku yang tidak saja memberi kemanfaatan pada diri sendiri, melainkan juga orang lain. Insyaallah.
Penulis adalah Widyaiswara di BPSDMD Provinsi Nusa Tenggara Barat



