WARTA PERTIWI | MADIUN – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur mencatat bahwa kinerja industri perbankan di wilayah Jawa Timur tetap solid hingga Agustus 2025, meskipun di tengah tekanan ekonomi global. Fungsi intermediasi perbankan berjalan optimal, didukung oleh permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, serta risiko kredit yang terkendali.
Kepala Direktorat Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan (LJK) 1 OJK Jawa Timur, Nasirwan Ilyas, menyampaikan bahwa pertumbuhan kredit perbankan Jawa Timur mencapai 4,46 persen (year-on-year/yoy), sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 4,03 persen (yoy).
“Kinerja perbankan Jawa Timur tetap solid dengan permodalan kuat dan risiko kredit yang terkendali,” ujar Nasirwan. Jumat (17 Oktober 2015)
Data OJK menunjukkan bahwa Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan Jawa Timur berada di level 29,38 persen, jauh di atas ketentuan minimum. Sementara rasio Non-Performing Loan (NPL) gross tercatat sebesar 3,67 persen, menandakan kualitas aset yang tetap terjaga.
Likuiditas perbankan juga dalam kondisi kuat, dengan rasio AL/DPK sebesar 31,96 persen dan AL/NCD sebesar 151,25 persen. Hal ini mencerminkan ketahanan sektor perbankan Jawa Timur dalam menghadapi dinamika ekonomi.
Dari sisi penyaluran kredit, sektor rumah tangga, perdagangan besar dan eceran, serta industri pengolahan menjadi penyumbang utama pertumbuhan kredit. Sementara sektor konstruksi mengalami kontraksi. Sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan justru menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan kredit sebesar 5,84 persen (yoy), menandakan meningkatnya akses pembiayaan produktif di wilayah perdesaan.
Secara keseluruhan, fungsi intermediasi perbankan di Jawa Timur berjalan optimal dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 75,41 persen.
“OJK akan terus mendorong perbankan di Jawa Timur untuk memperkuat penyaluran kredit produktif, terutama bagi sektor-sektor prioritas dan UMKM, agar pertumbuhan ekonomi daerah tetap inklusif dan berkelanjutan,” tutup Nasirwan.(id@)



