Close

Percakapan Di Belakang Punggung

Oleh: Cukup Wibowo

WARTA PERTIWI.COM –  Dalam keseharian, percakapan di belakang punggung kita seringkali tak terpantau dan terabaikan. Namun, justru karena sifatnya yang tak terdeteksi, percakapan semacam itu bisa berbahaya, seperti gerakan bawah tanah yang senyap namun mengancam.

Ketidakmampuan kita untuk memantau percakapan ini dengan “alat ukur” bernama kenormalan pandangan, menjadikannya seperti bom waktu yang ledakannya tak bisa diprediksi kecuali oleh mereka yang merencanakan percakapan itu.

Bayangkan jika kita menjadi target dari percakapan di belakang punggung. Seseorang sedang membicarakan kita, baik secara ringan ataupun serius. Kesadaran ini dapat mendorong kita untuk lebih mawas diri dan introspektif. Ketika menyadari bahwa ada kemungkinan kita sebagaimana yang lain bisa saja  menjadi topik pembicaraan pihak lain, kita akan lebih berhati-hati dalam bertindak dan berbicara.

Memikirkan diri kita sebagai subjek dari percakapan ini juga dapat memotivasi kita untuk melakukan koreksi terhadap hal-hal yang mungkin tidak berkenan bagi orang lain. Ini bukan berarti kita harus terus-menerus khawatir tentang pendapat orang lain, tetapi lebih kepada membuka diri terhadap kritik dan saran yang membangun. Dengan bersikap terbuka terhadap kemungkinan adanya kekurangan dalam diri kita, ini akan membuat kita makin bisa memperbaiki diri.

Kesadaran ini juga melatih kita untuk menjadi pribadi yang rendah hati (humble) dan bersikap sederhana (low profile). Rendah hati berarti kita tidak merasa diri kita selalu benar dan sempurna. Sebaliknya, kita mengakui bahwa kita adalah manusia yang tidak luput dari kesalahan dan senantiasa berusaha untuk menjadi lebih baik. Sementara bersikap sederhana berarti tidak mencari perhatian berlebih atau membanggakan diri di hadapan orang lain.

Siapapun kita, tanpa terkecuali, memiliki peluang besar untuk menjadi subjek pembicaraan orang lain, baik dalam bentuk kekaguman maupun ketidaksukaan. Sayangnya, ketidaksukaan tersebut bisa semakin tersamarkan oleh keramahan yang dibuat-buat, yang bertujuan untuk membuat kita tersesat dalam pujian palsu dan sanjungan yang sebenarnya artifisial karena tidak dalam tindakan nyata.

Menjadi pribadi yang menyenangkan atau menyebalkan bagi orang lain sangat bergantung pada cara seseorang berinteraksi. Kesadaran diri untuk memahami kebutuhan orang lain terlebih dahulu sebelum keinginan diri sendiri adalah cara bijak untuk memulai interaksi.

Ukuran tentang siapa kita, dalam jabatan apapun yang kita sandang, selalu dimulai dari sesuatu yang tak terukur, yaitu personalitas yang menyenangkan. Ketika seseorang berkata, “Biar saja saya tidak disukai, tidak mengapa, yang penting apa yang saya lakukan itu benar,” muncul pertanyaan: siapa yang bisa mengukur kalau diri kita itu benar? Apakah kita bisa menilai diri sendiri dengan menempatkan subjektivitas di atas objektivitas? Ini sangat naif. Kebenaran dalam pergaulan sosial parameternya adalah kemanfaatan. Tidak mungkin rasanya kita tidak disukai jika kita bermanfaat bagi orang lain. Pada akhirnya, kita membutuhkan cermin untuk melihat diri kita dalam kepatutan interaksi baik secara personal maupun sosial.

Dengan introspeksi dan refleksi, kita bisa terus memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik, rendah hati, dan bermanfaat bagi orang lain. Kesadaran akan adanya percakapan di belakang punggung kita, meskipun tak terpantau, seharusnya menjadi motivasi untuk terus berbuat baik dan menjaga interaksi yang positif dengan lingkungan sekitar.

Penulis adalah Widyaiswara di BPSDMD Provinsi Nusa Tenggara Barat.

scroll to top