Oleh: Oktaviana M.F.Q. Bobe
MALAKA (NTT) | WARTA PERTIWI – Desa Lotas, Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, merupakan salah satu wilayah yang masuk kategori 3T (tertinggal, terdepan, terluar).
Desa ini memiliki kekayaan sastra lisan dalam bahasa Dawan yang nyaris tak tertangkap dalam sistem pendidikan formal, bahan bacaan, maupun dokumentasi budaya.
Dengan populasi sekitar 1.350 jiwa dan mayoritas petani ladang serta penjaga ternak tradisional, Desa ini menghadapi minimnya fasilitas baca, dokumentasi sastra lokal, dan akses pendidikan tinggi bagi remaja, perempuan, serta orang tua.
Namun, di tengah keterbatasan itu, sastra lisan bukan sekadar warisan budaya yang pasif.
Ia bisa menjadi jembatan perubahan: antara masa lalu dan masa depan, antara masyarakat yang selama ini “terpinggir” menjadi aktor utama dalam narasi kehidupan mereka sendiri.
Dalam program “Pojok Baca Budaya” yang kami jalankan bersama masyarakat Desa Lotas, kegiatan mendigitalisasi puisi dan cerita rakyat, melatih membaca-menulis berbasis konteks budaya lokal, membangun rumah baca sebagai ruang interaksi.
Semuanya diarahkan untuk mengembalikan suara bagi masyarakat, bukan sekadar menyediakan bacaan.
Sastra lokal menempatkan rakyat desa sebagai subjek, bukan objek pembangunan. Pierre Bourdieu pernah menunjukkan bahwa narasi dominan dapat dirombak melalui budaya alternatif; dalam hal ini sastra lokal memberikan medium bagi kritik sosial dan ekspresi komunitas.
Namun tantangannya nyata: Desa Lotas kekurangan buku, fasilitas dokumentasi dan komunitas literasi aktif. Tanpa intervensi yang relevan dengan identitas lokal bahasa, adat, kisah literasi hanya akan jadi aktivitas asing dan terpisah dari kehidupan masyarakat.
Hasilnya menggembirakan: lebih dari 100 peserta aktif (termasuk generasi muda dan lansia) terlibat, karya puisi dan cerita rakyat berhasil diproduksi, pementasan sastra lisan mendapat sambutan hangat.
Ini bukan sekadar statistik. Ini adalah bukti bahwa masyarakat siap berekspresi dan terlibat dalam pelestarian budaya mereka sendiri.
Meski demikian, kekurangan infrastruktur, listrik, teknologi sederhana, sumber daya manusia masih menjadi hambatan utama.
Oleh karena itu, saya mengajak pembuat kebijakan, institusi budaya, akademisi, dan komunitas masyarakat untuk bersama‐sama membangun rumah baca budaya sebagai ruang hidup yang inklusif, bukan hanya proyek sesaat.
Gunakan teknologi sederhana sebagai jembatan literasi, hadirkan materi berbasis konteks budaya lokal, dan dorong kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga budaya, dan masyarakat.
Karena ketika sebuah puisi dalam bahasa Dawan dibaca, didengar, dan diceritakan kembali, maka bukan hanya kata yang bertukar melainkan suara yang tak dibungkam, budaya yang tetap bernyawa, dan generasi yang bangkit dengan kebanggaan akar budayanya.
Jenis kegiatan ini adalah Pemberdayaan Masyarakat Oleh BEM STKIP Sinar Pancasila bersama dosen pendamping tahun pendanaan 2025.
Kegiatan ini dapat terlaksana karena dukungan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, dan Kementrian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Penulis adalah Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia STKIP Sinar Pancasila, Betun.
