KUPANG (NTT) | WARTA PERTIWI – Di sudut Kelurahan Bello, Kota Kupang, Provinsi NTT hidup seorang pemuda yang menjadi simbol kegigihan dan harapan.
Namanya Josafat Sakan, atau akrab disapa Yos. Lahir pada 22 Juni 2002 di Lingkungan Kuankobo, RT 14/RW 006, ia tumbuh dalam keluarga sederhana.
Yos adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak perempuannya telah menikah dan menetap di lingkungan yang sama, sedangkan adiknya juga telah berkeluarga dan tinggal terpisah.
Sejak kecil, Yos dibesarkan hanya oleh sang ibu, Margarita Sakan (45), seorang pekerja serabutan sekaligus pembantu rumah tangga.
Sosok ayah tidak hadir dalam kehidupannya. Kondisi ini membuat Yos belajar mandiri sejak dini, memahami arti kerja keras, dan mengerti betapa setiap rupiah yang dihasilkan ibunya penuh dengan keringat dan pengorbanan.
Kini, Yos sedang menempuh semester 7 di Program Studi Kehutanan, Universitas Nusa Cendana (Undana).
Mereka tinggal di rumah sederhana di atas tanah milik salah satu keluarga di Kuankobo. Meski hidup dalam keterbatasan, semangat belajar Yos tidak pernah padam.
Bakatnya di dunia organisasi membawanya meraih sejumlah prestasi.
Pada tahun 2024, ia berhasil masuk lima besar Duta Bahasa Provinsi NTT, memperoleh penghargaan berupa uang tunai yang ia manfaatkan sepenuhnya untuk biaya pendidikan.
Ia juga pernah bergabung dalam program Penggerak Pemberdayaan Guru PAUD dari sebuah yayasan di Kota Kupang, yang turut memberinya pengalaman, jejaring, dan penghargaan finansial.
Beasiswa kampus pun pernah ia raih, menjadi dorongan tambahan untuk terus melanjutkan studinya.
Di sela-sela kuliah, Yos tidak segan bekerja. Saat libur perkuliahan, ia membantu pekerjaan rumah tangga di salah satu keluarga di Bimoku, atau mengambil pekerjaan serabutan lainnya.
Bersama sang ibu, ia mengumpulkan setiap hasil kerja untuk membiayai kuliah dan kebutuhan hidup sehari-hari.
Berkat ketekunan itu, Yos sudah berhasil menyelesaikan ujian proposal dan menargetkan bisa menyandang gelar sarjana pada tahun 2026.
Meski jalannya belum selesai, Yos memandang masa depan dengan optimisme.
“Selama kita mau berusaha, pasti ada jalan,” tuturnya mantap. Baginya, pendidikan adalah kunci untuk memutus rantai kemiskinan dan membuka pintu kesempatan yang lebih luas.
Kisah Yos adalah cermin perjuangan anak muda dari pinggiran Kota Kupang yang tak menyerah pada keadaan.
Ia membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk bermimpi, melainkan cambuk untuk terus berusaha dan membangun masa depan.(RIO)
