Close

Probolinggo Perkuat Langkah Penurunan Stunting Lewat Program Bangga Kencana

Foto : kegiatan Fasilitasi Teknis Program Bangga Kencana Bersama Mitra Kerja di Kantor Bupati Probolinggo, Minggu (13/7/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya percepatan penurunan stunting melalui sinergi lintas sektor dan pemberdayaan masyarakat.

WARTA PERTIWI.COM, PROBOLINGGO – Upaya penurunan stunting di Indonesia terus digencarkan oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (BKKBN) bersama Komisi IX DPR RI. Salah satu langkah strategis dilakukan melalui kegiatan Fasilitasi Teknis Program Bangga Kencana Bersama Mitra Kerja yang digelar di Kantor Bupati Probolinggo, Minggu (13/7/2025).

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari pertemuan serupa yang sebelumnya dilaksanakan di Kota Madiun, sebagai bagian dari komitmen nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Wakil Bupati Probolinggo, H. Fahmi Abdul Haq Zaini, yang akrab disapa Ra Fahmi AHZ, dalam sambutannya menegaskan keseriusan pemerintah daerah dalam menangani stunting. “Di Probolinggo, kami terus mendorong aktifasi posyandu hingga ke tingkat desa. Tindakan preventif dan pencegahan ini terbukti cukup efektif di beberapa lokasi pilot project,” ujarnya.

Ra Fahmi juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam penanganan stunting. Pemerintah desa bersama perangkat daerah seperti Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan telah berkolaborasi aktif dalam mendampingi keluarga berisiko stunting. Tak hanya itu, berbagai organisasi perempuan turut dilibatkan untuk berperan aktif dalam membangun keluarga sehat dan berkualitas.

Mengutip data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, Kabupaten Probolinggo sempat menunjukkan tren penurunan stunting. Namun dalam setahun terakhir, angka tersebut kembali meningkat cukup signifikan. Hal ini disampaikan oleh Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Dra. Maria Ernawati, MM.

“Tahun 2022 ada penurunan. Tapi tahun berikutnya naik lagi, mencapai 35 persen. Ini alarm keras bagi kita semua,” tegas Maria.

Ia menekankan pentingnya klasterisasi penyebab stunting di setiap desa.

“Kita harus tahu penyebabnya  apakah karena kemiskinan, penyakit bawaan, pola asuh, sanitasi atau akses air bersih. Jika datanya lengkap, kita bisa tepat dalam memberikan intervensi,” jelasnya.

Kepala Dinas DP3A P2KB Kabupaten Probolinggo, Hudan Syarifudin, menyampaikan bahwa peningkatan kualitas pengasuhan menjadi fokus utama dalam mencegah stunting sejak dini.

“Program Sekolah Orang Tua Hebat akan diperluas ke desa-desa. Ada 13 materi yang diajarkan kepada ibu-ibu balita, mulai dari gizi, stimulasi, hingga pola asuh. Ini akan diperkuat dengan MOU bersama desa dan kecamatan,” terangnya.

Hudan juga menyebut, anggaran dana desa akan diarahkan untuk mendukung program pemenuhan gizi dan kolaborasi dengan Dinas Kesehatan.

Hadir sebagai narasumber utama, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Dr. Hj. Nihayatul Wafiroh, M.A, menyatakan bahwa percepatan penurunan stunting harus menjadi tanggung jawab kolektif, terutama melibatkan OPD dan organisasi perempuan.

Sementara itu, Sekretaris Kementerian Kependudukan dan pembangunan  Keluarga/BKKBN  RI, Prof. Budi Setiyono, S.Sos., M.Pol.Admin., Ph.D, mengangkat pentingnya pola pengasuhan di era digital. Ia menyoroti dampak negatif dari screen time berlebihan pada anak-anak.

“Kita harus kelola interaksi anak dengan gadget. Tidak perlu membatasi secara saklek, tetapi harus dikelola, agar anak tidak ketergantungan dan mengalami gangguan perkembangan sosial atau kognitif,” jelas Prof. Budi.

Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan data Keluarga Risiko Stunting (KRS) untuk intervensi yang lebih tepat sasaran.

“Data KRS sudah tersedia per alamat di desa dan kelurahan. Ini yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin,” tambahnya.

Kegiatan ini diikuti perwakilan dari 10 kabupaten/kota di Jawa Timur, antara lain Kabupaten/Kota Madiun, Probolinggo, Blitar, Kediri, Magetan, Pacitan, Ngawi, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Nganjuk, Jombang, dan Mojokerto.

Kegiatan ini memperkuat komitmen kolektif lintas sektor dan lintas daerah dalam menyukseskan Program Bangga Kencana serta mempercepat penurunan angka stunting di Jawa Timur.Berdasarkan data SSGI Kemenkes RI 2022, prevalensi stunting nasional berada di angka 21,6%, sementara Kabupaten Probolinggo tercatat salah satu yang tertinggi di Jawa Timur. Pemerintah pusat menargetkan prevalensi stunting nasional turun hingga 14% pada 2024. Upaya seperti ini sangat strategis untuk mengejar target tersebut.(*id@)

scroll to top