SURABAYA, WARTA PERTIWI – Kehadiran teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang kian masif kini tidak sekadar mengubah lanskap ekonomi dan sosial, melainkan juga mulai menguji batas keimanan umat Islam. Peringatan keras tersebut mengemuka dalam khotbah Salat Iduladha 10 Zulhijah 1447 H yang digelar oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tegalsari di Lapangan Dr. Sutomo (Taman Korea), Surabaya, Rabu (27/5/2026) pagi. Fenomena pergeseran nilai di era modern ini dinilai memerlukan refleksi spiritual yang jauh lebih mendalam agar teknologi tidak mengikis esensi kemanusiaan dan ketuhanan.
Di hadapan sekitar 500 jemaah yang memadati lokasi sejak pukul 06.00 WIB, Ustadz H. Muhammad Syaikhul Islam, SHI, MHI, CHt, CCH(NGH-USA), CI, menegaskan pentingnya meneladani keteguhan hati Nabi Ibrahim AS. Dalam khotbah bertajuk “Penguatan keimanan, keikhlasan, dan kepedulian sosial, meneladani Nabi Ibrahim AS”, ia membedah bagaimana Nabi Ibrahim menguji ruang logikanya saat mencari keberadaan Tuhan melalui bulan, bintang, hingga matahari, sebelum akhirnya berserah penuh pada sang Pencipta. Konteks pencarian spiritual ini kemudian dikorelasikan secara langsung dengan realitas kehidupan digital kontemporer.
Syaikhul dengan lugas menyoroti fenomena masyarakat modern yang kerap kali terjebak dalam adiksi gawai. Banyak orang saat ini dinilai lebih mementingkan interaksi semu di media sosial, sibuk memperbarui status, atau sekadar bercakap di dunia maya hingga berani melalaikan kewajiban salat. Menurutnya, ketika sebuah perangkat teknologi mulai menyita fokus utama hidup dan menggeser posisi Allah SWT di dalam hati manusia, di situlah secara tidak sadar telah terjadi proses “mempertuhankan” mesin digital. Teknologi dan AI, lanjutnya, adalah instrumen ujian mutakhir bagi umat Islam: apakah kehadirannya akan digunakan untuk menjemput rida Allah atau justru menjadi sekoci yang memalingkan mereka dari koridor agama.
Landasan Riset Penguat. Argumen ini sejalan dengan studi global berkala yang dirilis oleh Pew Research Center mengenai persimpangan antara teknologi modern dan religiusitas masyarakat. Riset tersebut menunjukkan bahwa screen-time yang tidak terkontrol serta ketergantungan akut pada algoritma digital berkorelasi kuat pada penurunan kualitas ibadah ritual ritualistik. Hal ini dipicu oleh fenomena cognitive offloading, di mana manusia menyerahkan kapasitas berpikir dan ruang reflektifnya kepada mesin, yang berujung pada penurunan rentang perhatian (attention span) serta pudarnya sensitivitas spiritual terhadap lingkungan nyata di sekitarnya.
Ketua PCM Tegalsari, Sofyan Affandy Yusuf, S.Kom., yang mengawal langsung jalannya acara, menambahkan bahwa pemanfaatan teknologi di internal persyarikatan sebenarnya berjalan sangat masif, salah satunya lewat siaran langsung prosesi ibadah di akun Instagram @pcmtegalsari. Namun, ia menekankan bahwa adopsi teknologi mutlak harus diimbangi dengan benteng spiritual yang kokoh. Kendati pelaksanaan salat sempat dibayangi hujan lebat pada malam harinya yang merusak persiapan saf, antusiasme warga yang tetap meluap menjadi bukti bahwa ruang-ruang spiritualitas fisik di dunia nyata tetap memiliki kekuatan magis yang tidak akan pernah bisa sepenuhnya digantikan oleh realitas virtual sesempurna apa pun.
Editor: Arifin



