Close

Literasi Numerasi Didorong Menjadi Kecakapan Memecahkan Masalah Nyata

Kegiatan implementasi literasi numerasi di SMP Kristen Agape Indah Kupang, Selasa (6/10/2026)

Kupang, warta pertiwi.com – Penguatan implementasi literasi dan numerasi di sekolah didorong tidak berhenti pada kemampuan membaca, menulis, atau berhitung.

Kecakapan tersebut perlu diterapkan secara kontekstual agar peserta didik mampu memahami informasi, mengolah data, berpikir logis, dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

Penguatan itu menjadi pokok kegiatan Implementasi Literasi Numerasi yang digelar di SMP Kristen Agape Indah, TDM, Kota Kupang, Selasa (6/10/2026). Kegiatan tersebut melibatkan peserta dari enam sekolah dasar negeri dan sekolah dasar Inpres di Kota Kupang.

Kegiatan menghadirkan Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Johnny Eduard Rihi, bersama Naomi Dilak.

Kepala SMP Kristen Agape Indah TDM Kota Kupang, Videlinda A.S. Haan, S.Pd., M.Pd., menjadi bagian dari penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Johnny Eduard Rihi mengatakan, implementasi literasi numerasi merupakan penerapan kecakapan menggunakan angka, simbol, data, dan konsep matematika secara nyata untuk memecahkan berbagai persoalan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam proses pembelajaran.

Menurut dia, kemampuan numerasi tidak semestinya dipandang sebagai tanggung jawab guru matematika semata. Konsep tersebut perlu diterapkan secara lintas mata pelajaran sehingga siswa terbiasa membaca dan memahami data dalam berbagai bentuk.

“Numerasi bukan hanya soal kemampuan menghitung. Anak perlu dilatih menggunakan angka, simbol, data, dan konsep matematika untuk memecahkan masalah yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari,” kata Johnny.

Ia mencontohkan, kemampuan tersebut dapat dilatih melalui kegiatan sederhana, seperti membaca grafik dan tabel, menghitung harga atau diskon saat berbelanja, memahami takaran gizi, hingga mengambil keputusan berdasarkan data.

Pembelajaran juga dapat dikemas melalui permainan edukatif, proyek kelompok, maupun pemodelan situasi nyata. Dengan demikian, konsep matematika tidak terasa sebagai materi yang terpisah dari kehidupan siswa.

Sementara itu, Naomi Dilak mengatakan, tujuan utama penguatan literasi numerasi adalah membentuk generasi yang mampu berpikir logis dan kritis serta menggunakan konsep matematika untuk menyelesaikan persoalan nyata.

“Harapannya, peserta didik tidak hanya mengetahui konsep, tetapi mampu menggunakannya ketika menghadapi persoalan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Menurut Naomi, kemampuan tersebut menjadi semakin penting karena peserta didik berhadapan dengan berbagai informasi yang disajikan dalam bentuk teks, angka, tabel, grafik, maupun diagram.

Karena itu, sekolah perlu membangun kebiasaan belajar yang mendorong siswa memahami informasi sekaligus menggunakannya secara tepat.

Salah seorang peserta kegiatan, Fransiskus Paulus Seo, Kepala SDI Kuanino 3, mengatakan implementasi literasi dan numerasi di sekolah berkaitan erat dengan perubahan paradigma pembelajaran, hasil Rapor Pendidikan, serta keberlanjutan sistem yang dibangun sekolah.

Ia menilai literasi dan numerasi dalam konteks kurikulum saat ini tidak lagi sekadar kemampuan mengeja, membaca teks, atau menghafal perkalian.

“Esensinya adalah bagaimana siswa memaknai informasi, baik berupa teks maupun angka dan grafik, kemudian mampu menggunakannya untuk mengambil keputusan dalam kehidupan nyata,” kata Fransiskus.

Ia menambahkan, penguatan literasi numerasi juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dan karakteristik pembelajaran di setiap jenjang pendidikan.

Pada pendidikan vokasi, misalnya, kemampuan tersebut dibutuhkan agar lulusan mampu membaca prosedur kerja, memahami gambar kerja, serta mengolah data teknis.

Karena itu, menurut dia, penguatan literasi numerasi perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya melalui kegiatan sesaat.

Sekolah, guru, kepala sekolah, dan seluruh unsur pendidikan perlu membangun ekosistem pembelajaran yang menjadikan literasi dan numerasi sebagai bagian dari proses belajar sehari-hari.

Kegiatan di SMP Kristen Agape Indah TDM tersebut menjadi ruang bagi para peserta untuk memperkuat pemahaman sekaligus merefleksikan penerapan literasi numerasi di sekolah masing-masing.

Melalui pendekatan tersebut, literasi dan numerasi diharapkan tidak berhenti sebagai target pembelajaran, tetapi berkembang menjadi kecakapan hidup yang membantu peserta didik membaca keadaan, memahami data, berpikir kritis, dan menentukan pilihan secara rasional.(*/Rio)

scroll to top