Close

Bikin Program Percontohan, Pondok di Jombang Ini menuju Mandiri Kelola Sampah dan Ketahanan Pangan

Santri Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang mengikuti pelatihan pengelolaan sampah kawasan bersama tim PKM UNESA.

JOMBANG, WARTA PERTIWI – Langkah nyata dalam mengatasi persoalan sampah di lingkungan pesantren terus ditingkatkan. Asrama Nur Khadijah 2, Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang, menggelar pelatihan pengelolaan sampah kawasan pada Jumat (7/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 11.30 WIB ini diikuti oleh 40 peserta yang terdiri dari pengurus serta pengelola sampah dari seluruh asrama santri putra dan santri putri. Pelatihan ini merupakan bagian dari rangkaian program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) di bidang lingkungan.

Pengasuh Asrama Nur Khadijah 2, Abdur Rosyid — atau yang akrab disapa Gus Rosyid — menyampaikan bahwa pelatihan ini dihadirkan untuk mencetak kader penggerak lingkungan di kalangan santri.

“Kami ada 16 asrama yang sampahnya setiap hari cukup banyak. Pondok sudah punya bank sampah dari program Eco Pesantren dan ingin mengoptimalkan program pengelolaan sampah,” ujar Gus Rosyid.

Ia menambahkan, optimalisasi tersebut dilakukan dengan menghadirkan narasumber yang benar-benar kompeten dan berpengalaman dalam mendampingi pengelolaan sampah kawasan.

Dalam sesi materi pertama, dosen UNESA, Rizki Ramadan, memaparkan gambaran umum kondisi persampahan di Indonesia yang kian mengkhawatirkan. Ia mengungkapkan bahwa pada tahun 2025, timbulan sampah di Indonesia telah menyentuh angka 65 juta ton per tahun, sementara solusi pengelolaan yang ada masih jauh dari kata produktif.

“Sampah yang menggunung sangat berbahaya bagi lingkungan dan manusia,” tegas Rizki.

Ia menggarisbawahi banyaknya kerugian akibat buruknya tata kelola sampah, seperti maraknya praktik pembakaran sampah secara liar di pemukiman yang memicu polusi serta risiko kesehatan.

Sesi berikutnya dilanjutkan oleh Nara Ahirullah, tenaga ahli pengelolaan sampah  dari Surabaya, yang membedah aspek teknis dan manajemen pengelolaan sampah kawasan.

Nara menekankan pentingnya membangun sistem yang terstruktur. “Prinsip pengelolaan sampah itu sistematis, menyeluruh, dan berkelanjutan. Untuk mencapai itu ada aspek regulasi, kelembagaan, teknologi, partisipasi masyarakat, dan pembiayaan. Semua harus berjalan simultan,” jelas Nara.

Tak hanya teori, peserta juga dibekali praktik langsung pemilahan sampah serta pengolahan sampah organik menggunakan komposter. Menurut Nara, ketersediaan infrastruktur dasar pemilahan antara sampah organik dan anorganik menjadi kunci utama keberhasilan pengelolaan di tingkat kawasan.

Sebagai tindak lanjut dari pelatihan ini, Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar berkomitmen langsung mengeksekusi program di lapangan melalui skema percontohan.

“Kami ada 16 asrama dan insya Allah kami akan jadikan 3 asrama dulu sebagai percontohan (mini pilot project),” ungkap Gus Rosyid saat menutup acara.

Gus Rosyid mengapresiasi kesediaan Nara Ahirullah yang siap melakukan pendampingan teknis secara berkelanjutan. Ia optimistis program ini tidak hanya menekan volume sampah yang terbuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi dan ketahanan pangan.

“Alhamdulillah Mas Nara tadi menyatakan bersedia mendampingi, dan kita harus serius agar pondok kita ini makin berkontribusi pada perbaikan lingkungan. Apalagi sampah organik ini sangat baik jika dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan pangan,” pungkasnya. (*/Ida)

scroll to top