Close

Bolodewe Fish Farm Manfaatkan Eceng Gondok, Biaya Produksi Turun 31 Persen

Tim DIPA Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Dr. Soetomo yang di Ketua oleh Maria Agustini saat memberi Bantuan Alat Kepada Mitra.

SIDOARJO, WARTA PERTIWI – Inovasi pemanfaatan tanaman eceng gondok sebagai bahan pakan alternatif berhasil diterapkan pada usaha budidaya lele dumbo di Bolodewe Fish Farm, Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo. Program pendampingan yang diketuai oleh Maria Agustini bersama tim pengabdian masyarakat Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) ini terbukti mampu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan hasil panen. Kamis (5/3)

Program bertajuk Pendampingan Pembuatan Pakan Ekonomis dan Pupuk Cair Berbahan Eceng Gondok bagi Pertumbuhan Lele Dumbo berlangsung selama enam bulan. Tim yang terdiri dari Angga Pratama Putra, Muhajir, Indra Wirawan, dan Yuyun Yuniati fokus pada pengembangan pakan alternatif berbasis eceng gondok fermentasi serta penguatan manajemen usaha budidaya.

Sebelum program berjalan, Bolodewe Fish Farm menghadapi kendala biaya pakan yang tinggi, mencapai 60 hingga 70 persen dari total produksi. Selain itu, eceng gondok yang melimpah di lingkungan sekitar belum dimanfaatkan secara optimal, kualitas air kolam belum stabil, dan sistem manajemen usaha masih sederhana.

Melalui pelatihan teknis, survei lokasi, dan pendampingan, tim membantu mitra memproduksi pakan alternatif berbahan eceng gondok yang difermentasi menggunakan EM4 dan molases. Formulasi bahan terdiri dari eceng gondok, dedak, ampas tahu, dan tepung ikan, menghasilkan pakan dengan kandungan protein sekitar 25 persen. Kapasitas produksi kini mencapai 100 kilogram per minggu dengan kadar air hanya 4 persen, lebih rendah dari batas maksimal 12 persen.

Dari sisi efisiensi, pakan komersial sebelumnya menelan biaya Rp1.035.000 untuk kebutuhan 51,75 kilogram. Dengan pakan alternatif, biaya turun menjadi Rp714.000 untuk kebutuhan 89,24 kilogram. Artinya, terjadi penghematan hingga 31 persen. Selain itu, bobot rata-rata ikan meningkat dari 77 gram menjadi 125 gram per ekor, dengan tingkat kelangsungan hidup naik dari 80 persen menjadi 85 persen.

Program ini juga mendorong penguatan tata kelola usaha. Mitra kini mulai menerapkan pencatatan produksi rutin, standar operasional prosedur (SOP) dalam pembuatan pakan, serta evaluasi biaya setiap siklus produksi. Meski sempat terkendala cuaca hujan dan keterbatasan peralatan, keberhasilan program didukung oleh ketersediaan bahan baku eceng gondok yang melimpah serta komitmen kuat dari pihak mitra.

Ke depan, tim pengabdian berencana meningkatkan kapasitas produksi pakan alternatif dan mengembangkan pemasaran berbasis digital. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat keberlanjutan usaha budidaya lele di tingkat lokal sekaligus menjadi contoh pemanfaatan sumber daya alam sekitar untuk mendukung ketahanan pangan.

Editor: Ida

scroll to top