Kupang, warta pertiwi.com – Upaya pelestarian bahasa daerah terus dilakukan civitas akademika STKIP Sinar Pancasila di Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang melibatkan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan para dosen.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat Pengurus BEM STKIP Sinar Pancasila, dosen dan masyarakat melakukan kegiatan bertajuk “Inovasi Kamus Dwibahasa Dawan–Indonesia Berbasis Digital dan Cetak untuk Pemberdayaan Masyarakat dan Revitalisasi Bahasa Lokal di Desa Lotas, Daerah 3T.”
Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Lotas, Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka ini sebagai bagian dari upaya nyata perguruan tinggi dalam mendukung pelestarian bahasa dan budaya lokal.
Program ini bertujuan mengembangkan kamus dwibahasa Dawan–Indonesia dalam dua bentuk, yakni digital dan cetak. Inovasi tersebut diharapkan menjadi media pembelajaran, dokumentasi kosakata, sekaligus sarana pewarisan bahasa Dawan kepada generasi muda.
Pengembangan kamus ini juga menjadi salah satu langkah strategis untuk menjawab tantangan semakin berkurangnya pemahaman generasi muda terhadap sejumlah kosakata bahasa daerah.
Pelaksanaan kegiatan dipimpin oleh Oktaviana M.F.Q. Bobe, M.Pd selaku Ketua Pelaksana, bersama Agusta De Jesus Magalhaes sebagai Anggota 1 dan Rozario Mendonca Da Costa sebagai Anggota 2, dengan melibatkan mahasiswa BEM STKIP Sinar pancasila serta dosen pendamping.
Mahasiswa berperan aktif dalam berbagai tahapan kegiatan, mulai dari pengumpulan data kosakata, wawancara dengan penutur bahasa Dawan, pendokumentasian istilah lokal, pengolahan data, hingga penyusunan kamus dwibahasa.
Ketua Pelaksana, Oktaviana, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar menghasilkan sebuah kamus, melainkan merupakan bentuk kepedulian akademisi dan generasi muda terhadap keberlangsungan bahasa daerah.
“Bahasa Dawan merupakan bagian penting dari identitas dan kekayaan budaya masyarakat Desa Lotas. Melalui inovasi kamus dwibahasa Dawan–Indonesia berbasis digital dan cetak ini, kami ingin memastikan bahwa kosakata dan pengetahuan bahasa lokal tidak hanya tersimpan dalam ingatan para penutur, tetapi juga terdokumentasi dengan baik dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Kami berharap kamus ini menjadi sumber belajar yang mudah diakses oleh masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda,” ungkap Oktaviana.
Lebih lanjut, Oktaviana menegaskan, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini menjadi bentuk pembelajaran langsung di tengah masyarakat.
Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman akademik, tetapi juga belajar menghargai pengetahuan lokal, berinteraksi dengan para penutur, serta mengambil bagian dalam upaya pelestarian warisan budaya daerah.
Kehadiran kamus dalam bentuk cetak dan digital diharapkan memberikan manfaat yang saling melengkapi. Kamus cetak dapat dimanfaatkan sebagai bahan referensi di sekolah, lingkungan keluarga, dan masyarakat, sedangkan kamus digital memberikan kemudahan akses terhadap kosakata bahasa Dawan melalui pemanfaatan teknologi.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (DJRP), serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KEMENDIKTISAINTEK) atas dukungan pendanaan dan kesempatan yang diberikan sehingga program pengabdian kepada masyarakat ini dapat terlaksana.
Melalui program ini, Oktaviana berharap dapat memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada kebutuhan lokal. Inovasi kamus dwibahasa Dawan–Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi produk dokumentasi bahasa, tetapi juga menjadi warisan pengetahuan yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat Desa Lotas dan generasi penerus.
“Pelestarian bahasa daerah bukan hanya menjaga kata-kata, tetapi juga merawat identitas, sejarah, dan jati diri suatu masyarakat,” pungkasnya.(*/Rio)



