Close

Epilog

Oleh : Cukup Wibowo

WARTA PERTIWI.COM – Tak terasa kita telah melewati serangkaian hari dengan penuh kontemplasi melalui jalan puasa. Selama bulan Ramadan, saat sore menjelang, jalan-jalan seperti dimacetkan oleh ramainya orang berseliweran. Ada yang menyebut sedang membunuh waktu (killing the time), ada yang sekedar nongkrong bareng (hang out), dan ngabuburit, sebuah istilah dalam bahasa Sunda yang sangat populer digunakan selama bulan Ramadan, jalan-jalan sore sambil menanti tibanya waktu untuk berbuka puasa. Entah dengan sekedar jalan-jalan, nongkrong di area publik atau juga berburu takjil. Semua itu menggambarkan betapa suasana sore hari selama sebulan terlihat begitu semarak.

Tak sedikit testimoni yang diungkapkan oleh umat beragama lain terkait suasana sore selama bulan Ramadan, “Kami senang sekali dengan adanya bulan puasa yang dijalani oleh saudara kami umat muslim. Orang berjualan beragam makanan dimana-mana. Bahkan tak sedikit dari kami ikut merasakan rezeki bulan puasa dengan ikut berjualan perlengkapan yang dibutuhkan oleh masyarakat selama bulan puasa.”

Apa yang terungkap dalam gambaran di atas menunjukkan betapa perekonomian rakyat berkembang secara spontan dengan penuh kegembiraan. Bulan puasa serasa jadi berkah bagi siapa saja. Baik yang berdagang maupun yang membeli seperti dipertemukan dalam suasana penuh kegembiraan yang saling melengkapi. Dan malamnya, masjid dan mushola di kampung-kampung ramai dengan adanya sholat tarawih berjamaah. Seusainya, kemerduan suara para pembaca Alqur’an berkumandang memenuhi udara secara silih berganti di acara tadarus Qur’an. Sungguh malam yang luar biasa.

Bagi umat muslim sendiri puasa tak ubahnya hubungan kegaiban yang nikmatnya terasa  nyata antara hamba dengan Penciptanya. Hari demi hari dengan tiada hentinya kita sebagai hamba Allah terus melakukan ikhtiar agar bisa menjadi hamba yang bertaqwa lewat jalan puasa. Dalam pengulangan tindakan yang terus kita jalani selama bulan puasa, niat puasa kita menjadi semacam ikrar kesanggupan untuk mematuhi mana yang perlu dipatuhi, dan menjauhi mana yang menjadi pantangan dalam berpuasa.

Alhamdulillah telah kita lewati semuanya dengan baik. Pada kesimpulan puasa yang kita rasakan hingga hari ini, pergulatan jiwa dan raga itu serupa epilog yang selanjutnya akan  ditutup oleh layar lebar yang menandakan usainya sebuah peragaan. Sama halnya dengan seorang pelari yang telah menempuh jarak berakhir di garis finish, lega rasanya bisa merampungkan apa yang menjadi keharusan untuk dituntaskan. Demikian juga dengan puasa yang kita jalani, lega rasanya bisa merampungkannya dengan baik. Apapun pengandaian yang kita pilih untuk menggambarkan usainya sebuah tindakan, setiap perjalanan yang memiliki durasi akan selalu memunculkan catatan-catatan. Pada setiap catatan itulah kita kemudian belajar bagaimana memaknai proses dengan berbagai impresi yang menyertainya.

Selama sebulan penuh kita jalani bulan yang suci mulia itu dengan amalan-amalan, di antaranya dengan sholat tarawi, shalat witir, shalat malam atau tahajjud, tadarusan Al-Qur’an atau membaca Al-Qur’an, memperbanyak sedekah, iktikaf dan amalan lainnya, maka seluruh amalan itu  tinggal kita transformasikan dalam praktek nyata setelah bulan Ramadan usai.

Pengalaman spiritual selama puasa mestinya makin membuat kita sanggup mengelola diri dalam kedisiplinan dan kesabaran yang teruji. Disiplin dalam waktu, disiplin dalam tindakan untuk mana yang boleh dan mana yang dilarang dalam ketentuan puasa. Juga tentang kesabaran, kita menjadi makin terlatih untuk bisa menahan diri menghadapi godaan hawa nafsu selama berpuasa. Dua hal itu, yakni kedisiplinan dan kesabaran, pada gilirannya berefek pada meningkatnya mentalitas dan produktivitas kerja kita.

Makin kita mengerti kenapa banyak umat muslim yang menangis saat harus berpisah dengan bulan Ramadan, tentu karena tak ada satu pun yang bisa menjamin kalau ada di antara kita bisa kembali berjumpa dengan bulan yang penuh dengan pesan kemuliaan, keberkahan, serta pengampun bagi umat manusia kecuali atas kehendak-Nya, Dzat yang memiliki kekuasaan untuk seluruh jagat semesta.

Semoga himpunan catatan kita atas perenungan dan penghayatan selama sebulan penuh kita berpuasa bisa kita manifestasikan dalam praktek kebaikan bagi diri sendiri maupun orang lain. Insyaallah

Penulis adalah Widyaiswara di BPSDMD Provinsi NTB

scroll to top