JAKARTA, WARTA PERTIWI – Indonesia mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek keselamatan pasukan penjaga perdamaian di berbagai wilayah penugasan, khususnya dalam misi UNIFIL di Lebanon. Desakan ini muncul setelah gugurnya tiga personel penjaga perdamaian Indonesia saat menjalankan tugas di Lebanon.
Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan, “Kita sekali lagi berupaya agar pasukan penjaga perdamaian kita diberi, agar pasukan perdamaian kita ini sehat, selamat dalam menjalankan tugas yang diembankan kepada mereka.” Langkah ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk memimpin perubahan demi melindungi para prajurit. Selasa (7/4/2026)
Pemerintah Indonesia menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya Mayor Inf. Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda Anumerta Farizal Rhomadon. Selain itu, tiga personel lainnya mengalami luka-luka dalam insiden yang masih dalam investigasi UNIFIL.
Pemerintah Indonesia melalui Perwakilan Tetap di New York telah meminta Dewan Keamanan PBB menggelar rapat, yang telah disetujui oleh Prancis selaku penholder isu Lebanon. Rapat tersebut bertujuan untuk mengutuk keras serangan terhadap penjaga perdamaian dan menuntut investigasi menyeluruh.
Menlu Sugiono menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian tidak dapat dibenarkan dan menekankan pentingnya jaminan keamanan bagi personel penjaga perdamaian. “They are peacekeeping, not peacemaking. Mereka tidak dilengkapi dengan kemampuan untuk membuat ataupun peacemaking.
Perlengkapannya dan latihannya adalah untuk menjaga perdamaian, situasi damai yang dijaga, dan ini juga merupakan mandat dari PBB peacekeeping ini,” jelasnya.
Pesan kuat dari pemerintah adalah bahwa negara hadir, menghormati, dan akan terus melindungi setiap prajuritnya di mana pun mereka bertugas demi terciptanya dunia yang lebih damai.
(*)


