Close

Ketahanan Jasa Keuangan Indonesia Terjaga Meski Pasar Dunia Bergejolak

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, saat menyampaikan pemantauan intensif sektor jasa keuangan melalui konferensi pers secara daring, Selasa (5/5/2026). (Dok. OJK)

JAKARTA, WARTA PERTIWI – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan komitmennya menjaga stabilitas sektor jasa keuangan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan bahwa OJK melakukan pemantauan intensif, termasuk stress test dengan berbagai skenario, serta memperkuat pengawasan terhadap lembaga jasa keuangan.

“OJK mendorong lembaga jasa keuangan untuk memperkuat manajemen risiko secara menyeluruh, melaksanakan stress testing berkala, dan meningkatkan asesmen terhadap eksposur risiko pasar maupun kredit,” ujar Friderica, Selasa (5/5/2026).

Mengantisipasi dinamika pasar ke depan, OJK bersama Self-Regulatory Organizations (SRO) senantiasa mencermati perkembangan pasar dan mengambil respons kebijakan yang diperlukan.

Sejumlah instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas pasar saham dinilai tetap relevan dan telah diperpanjang masa berlakunya.

Pasar saham domestik pada April 2026 masih bergerak dinamis, sejalan dengan tingginya ketidakpastian global dan berlanjutnya volatilitas pasar keuangan dunia. IHSG ditutup pada level 6.956,80 per akhir April 2026, terkoreksi 1,30 persen secara mtm atau 19,55 persen secara ytd.

Di tengah dinamika tersebut, resiliensi dan likuiditas pasar modal domestik secara keseluruhan tetap manageable.

Rata-rata bid-ask spread di pasar saham domestik pada April tetap di level rendah sebesar 1,33 kali, menunjukkan likuiditas pasar yang terjaga. Investor asing pada periode laporan membukukan net sell di saham sebesar Rp17,02 triliun.

Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) pada akhir April 2026 ditutup pada level 436,38 atau naik 0,74 persen mtm. Perkembangan tersebut didukung penurunan yield SBN rata-rata sebesar 3,90 bps mtm, yang mencerminkan resiliensi pasar obligasi domestik. Investor nonresiden mencatat net buy di pasar SBN sebesar Rp8,80 triliun secara mtd (per 29 April 2026).

Pasar modal domestik terus menjalankan peran pentingnya sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi korporasi. Hingga April 2026 (ytd), nilai fundraising oleh korporasi di pasar modal telah mencapai Rp56,35 triliun, dan 71 rencana Penawaran Umum dalam pipeline.

Untuk penggalangan dana melalui Securities Crowdfunding (SCF), total nilai dana dihimpun telah mencapai Rp1,93 triliun. Kemudian di pasar derivatif keuangan, volume transaksi secara akumulatif mencapai 143.217 lot.

Perbankan

Kinerja intermediasi perbankan tumbuh positif dengan profil risiko yang terjaga. Pada Maret 2026, kredit tumbuh sebesar 9,49 persen yoy menjadi Rp8.659 triliun, meningkat dibandingkan posisi Februari 2026 yang tumbuh 9,37 persen yoy.

Berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Investasi tumbuh tertinggi yaitu sebesar 20,85 persen. Adapun berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi tumbuh tertinggi yaitu sebesar 14,88 persen yoy.

Sementara itu kredit UMKM telah menunjukkan perbaikan dengan tumbuh positif sebesar 0,12 persen yoy (Februari: terkontraksi sebesar 0,56 persen yoy). Ditinjau dari kepemilikan, kredit bank BUMN tumbuh tertinggi yaitu sebesar 13,66 persen yoy.

Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 13,55 persen yoy (Februari 2026: 13,18 persen yoy) menjadi Rp10.231 triliun, dengan giro, deposito dan tabungan masing-masing tumbuh sebesar 21,37 persen yoy, 11,57 persen yoy, dan 8,36 persen yoy.

Likuiditas industri perbankan pada Maret 2026 tetap memadai, dengan rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masing-masing sebesar 122,55 persen (Februari 2026: 121,29 persen) dan 27,85 persen (Februari 2026: 27,4 persen) dan masih di atas threshold masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen. Adapun Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada di level 193,64 persen, sedangkan Net Stable Funding Ratio (NSFR) berada di level 128,84 persen.

Sementara itu, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross sebesar 2,14 persen (Februari 2026: 2,17 persen) dan NPL net terjaga di 0,83 persen (Februari 2026: 0,83 persen). Loan at Risk (LaR) tercatat sebesar 8,94 persen (Februari 2026: 9,24 persen). Secara umum, tingkat profitabilitas bank (ROA) sebesar 2,47 persen (Februari 2026: 2,37 persen).

Setelah memperhitungkan pembagian dividen, indikator permodalan (CAR) tercatat sebesar 25,09 persen (Februari 2026: 25,83 persen), menandakan ketahanan permodalan perbankan yang kuat sebagai buffer mitigasi risiko yang memadai.

Perasuransian dan Dana Pensiun

Kinerja Industri Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) secara umum tetap stabil dan terjaga, ditopang oleh tingkat solvabilitas agregat yang tinggi.

Sejalan dengan kondisi tersebut, OJK terus mendorong optimalisasi peran serta peningkatan kinerja industri PPDP, dengan tetap memperkuat ketahanan dalam menghadapi dinamika perekonomian.

Untuk industri asuransi, aset industri asuransi pada Maret 2026 mencapai Rp1.195,75 triliun atau naik 4,38 persen yoy. Dari sisi asuransi komersil, total aset mencapai Rp977,53 triliun atau naik 5,64 persen yoy.

Adapun kinerja asuransi komersil berupa akumulasi pendapatan premi pada periode Maret 2026 mencapai Rp88,36 triliun, atau tumbuh 0,74 persen yoy, terdiri dari premi asuransi jiwa yang turun 0,14 persen yoy dengan nilai sebesar Rp47,12 triliun, dan premi asuransi umum dan reasuransi yang tumbuh sebesar 1,77 persen yoy dengan nilai sebesar Rp41,24 triliun.

Permodalan industri asuransi jiwa serta asuransi umum dan reasuransi secara agregat mencatatkan Risk Based Capital (RBC) masing-masing sebesar 474,26 persen dan 316,32 persen (di atas threshold sebesar 120 persen).

Di sisi industri dana pensiun, total aset dana pensiun per Maret 2026 tumbuh sebesar 10,49 persen yoy dengan nilai mencapai Rp1.684,89 triliun.

Untuk program pensiun sukarela, total aset mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,71 persen yoy dengan nilai mencapai Rp408,82 triliun.

Di sektor PVML, piutang pembiayaan Perusahaan Pembiayaan (PP) tumbuh sebesar 0,61 persen yoy pada Maret 2026 menjadi Rp514,09 triliun, didukung peningkatan pembiayaan modal kerja sebesar 6,15 persen yoy.

Profil risiko Perusahaan Pembiayaan terjaga dengan rasio Non Performing Financing (NPF) gross tercatat sebesar 2,83 persen dan NPF net sebesar 0,8 persen. Gearing ratio PP tercatat sebesar 2,17 kali dan berada di bawah batas maksimum sebesar 10 kali.

Pembiayaan modal ventura pada Maret 2026 mengalami kontraksi sebesar 0,95 persen yoy, dengan nilai pembiayaan tercatat sebesar Rp16,57 triliun.

Pada industri Pinjaman Daring (Pindar), outstanding pembiayaan pada Maret 2026 tumbuh 26,25 persen yoy, dengan nominal sebesar Rp101,03 triliun. Tingkat risiko kredit macet secara agregat (TWP90) dalam kondisi terjaga di posisi 4,52 persen.

Terkait dengan perkembangan aktivitas aset kripto di Indonesia, per Maret 2026, jumlah konsumen mencapai 21,37 juta konsumen (tumbuh 1,43 persen mtd).

Sementara itu, pada Maret 2026 nilai transaksi aset kripto tercatat sebesar Rp22,24 triliun dan nilai transaksi derivatif AKD tercatat sebesar Rp5,80 triliun.

Di tengah fluktuasi nilai transaksi yang terjadi, kepercayaan konsumen terhadap ekosistem aset keuangan digital termasuk aset kripto Indonesia masih terjaga dengan baik.

Editor: Ida

scroll to top