SURABAYA | WARTA PERTIWI – Di tengah meningkatnya angka penularan HIV di Kota Pahlawan, Yayasan Orbit Surabaya bersama sejumlah Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) mendorong pemerintah daerah (pemda) untuk segera menjalin kemitraan strategis melalui skema Swakelola Tipe III. Langkah ini dinilai krusial dalam memperkuat pendampingan terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV) dan penyintas Tuberkulosis (TB).
Dalam konferensi pers yang digelar di Viaduct By Gubeng Surabaya, Rabu (17/9/2025), Technical Officer Yayasan Orbit Surabaya, Istikah, menegaskan perlunya kerjasama konkret antara OMS dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar pendampingan terhadap populasi kunci dapat dilakukan secara terstruktur dan berkelanjutan.
“Untuk keberlanjutan pendampingan terhadap ODHIV sekaligus TB, sangat diperlukan kerjasama antara OPD dengan OMS,” ujar Tika.
Ia menjelaskan bahwa skema Swakelola Tipe III memungkinkan OMS menjangkau populasi yang selama ini terdiskriminasi akibat status HIV. Meski selama ini pendampingan dilakukan tanpa dukungan anggaran dari pemerintah, OMS tetap aktif memberikan layanan edukasi dan dukungan psikososial.
Tika juga menyoroti bahwa kerjasama ini telah memiliki landasan hukum yang kuat, yakni Perpres Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang dan Jasa serta Peraturan LKPP Nomor 3 Tahun 2021 tentang Pedoman Swakelola. Kedua regulasi tersebut membuka ruang bagi pelibatan OMS dalam pengelolaan dana APBN maupun APBD.
Namun hingga kini, Pemkot Surabaya belum merealisasikan skema tersebut. Perwakilan Bappedalitbang Surabaya, Fajrin, menyatakan bahwa pihaknya masih mengkaji mekanisme dan profil organisasi masyarakat yang akan dilibatkan.
“Kami masih mempelajari mekanismenya dan melihat profil organisasi masyarakatnya,” ujarnya.
Sebagai perbandingan, sejumlah kota lain seperti Denpasar, Medan, Bandung, dan Kediri telah lebih dulu menerapkan skema Swakelola Tipe III dalam penanggulangan HIV secara terstruktur.
Sementara itu, data Kementerian Kesehatan per Juni 2025 menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat ke-14 dunia dalam jumlah ODHIV, dengan estimasi 564.000 kasus. Namun baru 63% yang mengetahui statusnya, dan hanya 55% yang mencapai viral load tersupresi, artinya risiko penularan masih tinggi.
Yayasan Orbit dan Aliansi Surabaya Peduli AIDS dan TB (ASPA) berharap agar Pemkot Surabaya segera mengambil langkah konkret demi menekan laju penularan HIV dan meningkatkan kualitas hidup ODHIV melalui kolaborasi yang lebih sistematis dan berkelanjutan.(id@)



