Close

Renungan Harian Katolik 3 Oktober 2025, “Menolak Aku”

Foto : Bruder Pio Hayon SVD

Oleh : Bruder Pio Hayon, SVD

KUPANG (NTT) | WARTA PERTIWI – Renungan Harian Katolik Hari Jumat Pekan Biasa XXVI tanggal 3 Oktober  2025 dari Bruder Pio Hayon SVD merujuk pada Bacaan I:  Bar. 1: 15-22 dan Injil:  Luk. 10:13-16.

Saudari/a terkasih dalam Kristus

Salam sejahtera untuk kita semua. Dari bacaan-bacaan hari ini, kita dihadapkan pada dua situasi yang menyoroti tema tentang pengakuan dosa, penyesalan, dan konsekuensi dari menolak utusan Allah.

Tema “Menolak Aku” mengajak kita untuk merenungkan bagaimana kita merespons panggilan Allah dan bagaimana kita dapat menghindari penolakan terhadap-Nya yang membawa kepada kehancuran.

Saudari/a terkasih dalam Kristus

Dari bacaan pertama Kitab Barukh 1:15-22, kita membaca pengakuan dosa bangsa Israel atas ketidaksetiaan mereka kepada Allah.

Mereka mengakui bahwa mereka telah tidak mendengarkan suara Tuhan, tidak mengikuti ketetapan-ketetapan yang telah diberikan-Nya, dan telah ditimpa malapetaka seperti yang tertulis dalam Kitab Musa.

Mereka mengakui bahwa mereka telah menjadi sasaran kutuk dan hukuman karena dosa-dosa mereka. Pengakuan ini menunjukkan pentingnya kerendahan hati, kejujuran, dan penyesalan yang tulus di hadapan Allah.

Sedangkan dalam Injil Lukas 10:13-16, Yesus mengecam kota-kota Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum karena mereka tidak bertobat meskipun telah menyaksikan banyak mukjizat yang dilakukan-Nya di tengah-tengah mereka.

Ia mengatakan bahwa jika mukjizat-mukjizat itu dilakukan di Tirus dan Sidon, mereka tentu sudah lama bertobat. Yesus juga memperingatkan bahwa pada hari penghakiman, Tirus dan Sidon akan lebih ringan tanggungannya daripada kota-kota itu.

Kemudian, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.”

Yesus menekankan bahwa menolak utusan-Nya sama dengan menolak Dia sendiri dan Allah yang mengutus-Nya. Penolakan ini membawa konsekuensi yang serius, yaitu penghakiman dan hukuman.

Ini menunjukkan bahwa kita memiliki tanggung jawab untuk merespons dengan benar terhadap panggilan Allah dan untuk menerima utusan-utusan-Nya dengan hormat.

Refleksi atas permenungan ini adalah tentang Pengakuan Dosa: Apakah kita jujur mengakui dosa-dosa kita di hadapan Allah? Apakah kita merasa menyesal atas pelanggaran kita terhadap-Nya?

Respons terhadap Utusan Allah: Bagaimana kita merespons orang-orang yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan pesan-Nya kepada kita? Apakah kita mendengarkan mereka dengan hati yang terbuka, ataukah kita menolak mereka karena prasangka atau ketidakpercayaan?

Tanggung Jawab: Apakah kita menyadari bahwa kita akan dimintai pertanggungjawaban atas bagaimana kita merespons panggilan Allah? Apakah kita hidup sesuai dengan kehendak-Nya, ataukah kita mengikuti jalan kita sendiri?

Saudari/a terkasih dalam Kristus

Pesan untuk kita, pertama: pada hari ini, marilah kita merenungkan panggilan untuk bertobat, merendahkan diri, dan menerima utusan-utusan Allah dengan hormat.

Kedua, semoga kita diberi hikmat untuk mengenali kehendak-Nya dalam hidup kita dan kekuatan untuk melaksanakannya.

Ketiga, mari kita berdoa agar kita selalu terbuka untuk menerima kasih dan kebenaran-Nya, serta menjadi saksi yang hidup bagi-Nya di dunia ini.(*/RIO)

scroll to top