Close

Dari Lotas untuk Masa Depan: Merawat Bahasa Leluhur, Membangun Generasi Muda di Daerah 3T

Foto : Oktaviana M.F.Q. Bobe Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia STKIP Sinar Pancasila

Oleh: Oktaviana M.F.Q. Bobe Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia STKIP Sinar Pancasila

warta pertiwi com – Bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi sehari-hari, melainkan fondasi utama identitas, penjaga warisan budaya, dan lumbung pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur. Di dalam seuntai kosakata lokal, terkandung falsafah hidup, sistem nilai, dan sejarah panjang suatu peradaban masyarakat.

Namun, di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi bahasa nasional maupun asing, keberadaan bahasa daerah kini berada di persimpangan jalan yang krusial. Indonesia, dengan kekayaan bahasanya yang luar biasa, perlahan mulai menghadapi ancaman laten: gejala kepunahan bahasa lokal (language endangerment) akibat semakin berkurangnya minat dan pemahaman generasi muda terhadap bahasa ibu mereka sendiri.

Fenomena memprihatinkan ini juga menjadi perhatian serius di Desa Lotas, Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sebagai daerah yang masuk dalam kategori 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), tantangan pelestarian budaya di wilayah ini menjadi ganda.

Selain keterbatasan akses informasi, penetrasi budaya luar yang tidak diimbangi dengan literasi budaya lokal membuat Bahasa Dawan—sebagai bahasa ibu dan pilar identitas masyarakat setempat—mulai kehilangan ruang penuturan di kalangan anak muda.

Remaja masa kini cenderung lebih fasih menggunakan bahasa gaul atau bahasa Indonesia informal, sementara kosakata-kosakata arkais yang kaya akan makna filosofis Dawan perlahan-lahan mulai terkikis dan dilupakan. Jika dibiarkan, kekayaan intelektual ini akan lenyap bersama perginya generasi tua.

Menyadari urgensi tersebut, perguruan tinggi hadir untuk memberikan solusi nyata. Melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Inovasi Kamus Dwibahasa Dawan–Indonesia Berbasis Digital dan Cetak untuk Pemberdayaan Masyarakat dan Revitalisasi Bahasa Lokal di Desa Lotas, Daerah 3T”, tim akademisi berupaya menjembatani jurang pemisah antara tradisi leluhur dan modernitas.

Langkah konkret yang diambil adalah melakukan kodifikasi dan dokumentasi bahasa melalui penyusunan kamus dwibahasa. Inovasi ini dirancang bukan untuk menolak perkembangan zaman, melainkan memanfaatkan teknologi sebagai alat pertahanan budaya.

Untuk memastikan asas kebermanfaatan yang luas, kamus ini dikembangkan dalam dua modalitas utama: cetak dan digital. Kamus versi cetak dialokasikan sebagai dokumen otentik dan sumber belajar fisik yang sangat dibutuhkan di wilayah dengan keterbatasan sinyal internet seperti Desa Lotas.

Kamus cetak ini akan menjadi inventaris berharga bagi sekolah-sekolah lokal dan kantor desa. Sementara itu, kamus versi digital dikembangkan untuk memberikan kemudahan akses interaktif melalui gawai (smartphone). Versi digital ini dilengkapi dengan fitur pencarian yang cepat dan ramah pengguna, menjadikannya media pembelajaran yang inklusif, menarik, dan relevan dengan gaya hidup generasi Z dan alfa saat ini.

Lebih dari sekadar memproduksi sebuah buku, esensi dari program ini adalah pemberdayaan masyarakat berbasis partisipatif. Tim pengabdi tidak memosisikan diri sebagai pihak yang paling tahu, melainkan bertindak sebagai fasilitator. Para tokoh adat, tetua kampung, dan penutur asli (native speakers) bahasa Dawan di Desa Lotas memegang peran sentral sebagai informan kunci dan pemilik otoritas pengetahuan.

Mereka dilibatkan aktif dalam proses verifikasi kosakata, pelafalan, hingga pemaknaan kontekstual. Melalui kolaborasi lintas generasi ini, pengetahuan budaya yang selama ribuan tahun hanya diwariskan secara lisan (oral) kini dapat terdokumentasikan secara terstruktur, ilmiah, dan valid untuk diwariskan kepada anak cucu.

Keberhasilan program berskala makro ini tentu tidak lepas dari sinergi berbagai pihak. Dukungan penuh secara moral maupun finansial dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (DJRP), serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KEMENDIKTISAINTEK) menjadi pilar utama yang menghidupkan program pengabdian ini.

Selain itu, apresiasi dan rasa hormat yang setinggi-tingginya patut disematkan kepada Pemerintah Desa Lotas yang sangat kooperatif, masyarakat lokal yang terbuka, para pemuda, serta mahasiswa yang telah mendedikasikan waktu dan energinya di lapangan untuk mengumpulkan serpihan-serpihan kosakata Dawan.

Pada akhirnya, gerakan revitalisasi bahasa daerah di Desa Lotas ini bukan sekadar romantisasi masa lalu atau upaya kaku untuk menyelamatkan deretan kata dari kepunahan formal. Ini adalah misi kemanusiaan untuk menjaga marwah, harga diri, dan lembaran sejarah peradaban masyarakat Malaka.

Kamus Dawan–Indonesia ini diharapkan tidak berhenti sebagai pajangan di rak buku atau aplikasi yang pasif di memori gawai, melainkan menjadi pemantik awal (trigger) bagi lahirnya kesadaran kolektif. Generasi muda harus bangga identitasnya, dan kebanggaan itu dimulai dari lidah yang terbiasa menuturkan bahasa leluhurnya.

Sebab, ada sebuah kebenaran sosiolinguistik yang tak terbantahkan: bahasa yang tidak pernah diwariskan perlahan-lahan akan mati ditelan zaman, tetapi bahasa yang terus dirawat, dipelajari, dan dituturkan dengan bangga akan tetap hidup kokoh melintasi berbagai generasi, menjaga api peradaban tetap menyala dari pelosok negeri.

scroll to top