SURABAYA, WARTA PERTIWI – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur menegaskan bahwa sektor jasa keuangan di Jawa Timur tetap menunjukkan ketahanan dan stabilitas pada awal tahun 2026. Hal ini menjadi penopang penting bagi pertumbuhan ekonomi daerah, meskipun perekonomian sedang menghadapi tekanan inflasi dan meningkatnya risiko global.
Inflasi Menguat di Awal Tahun
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat inflasi Februari 2026 mencapai 4,88 persen yoy, melonjak dari 2,93 persen di akhir 2025. Kenaikan ini dipicu oleh harga pangan strategis, tarif energi, serta komoditas nonpangan seperti emas perhiasan. Namun, pada Maret 2026 inflasi mulai melandai ke 3,79 persen yoy, meski masih di atas target nasional 2,5 ± 1 persen. Ramadan turut mendorong inflasi bulanan pada kelompok makanan, minuman, dan transportasi.
Tekanan Inflasi dari Pangan dan Transportasi
Inflasi di awal tahun terutama bersumber dari komoditas pangan bergejolak seperti cabai dan daging, serta komponen administered prices. Mobilitas masyarakat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional juga meningkatkan tekanan pada sektor transportasi. Kondisi ini menuntut sektor jasa keuangan untuk tetap adaptif dalam menjaga daya beli masyarakat.
Pasar Modal Semakin Bergairah
Kepercayaan investor Jawa Timur terhadap pasar modal nasional tetap tinggi. Jumlah Single Investor Identification (SID) terus meningkat: saham mencapai 1,2 juta (+39,48% yoy), reksa dana 2,25 juta (+32,64% yoy), dan SBN 193 ribu (+18,09% yoy). Lonjakan ini mencerminkan transformasi perilaku masyarakat yang semakin sadar investasi, didukung digitalisasi layanan keuangan dan peningkatan literasi.
Lonjakan Transaksi Saham
Aktivitas perdagangan saham Januari 2026 mencatat transaksi beli sebesar Rp37,2 triliun dan transaksi jual Rp35,5 triliun. Total transaksi saham mencapai Rp72,7 triliun, tumbuh 225% dibanding Januari 2025. Lonjakan ini menunjukkan meningkatnya partisipasi investor ritel dan kondisi pasar yang lebih bullish.
Kepemilikan Saham Menguat
Nilai kepemilikan saham Februari 2026 tercatat Rp159,3 triliun, naik 73,82% yoy. Penguatan ini didorong oleh membaiknya sentimen pasar, kondisi ekonomi yang relatif stabil, serta meningkatnya kepercayaan investor terhadap saham sebagai instrumen investasi dengan potensi imbal hasil lebih tinggi.
Reksa Dana Pulih Kuat
Nilai penjualan reksa dana Desember 2025 mencapai Rp4,9 triliun, tumbuh 154,6% yoy. Pemulihan ini didorong oleh penurunan tekanan suku bunga dan meningkatnya minat investor terhadap instrumen yang dikelola profesional. Pertumbuhan nasabah institusi juga signifikan, menandakan kepercayaan yang lebih besar terhadap reksa dana.
Securities Crowdfunding Tumbuh
Hingga Februari 2026, Jawa Timur mencatat 34 penerbit SCF dengan 7.938 pemodal dan total penghimpunan dana Rp61,7 miliar. Pertumbuhan ini menunjukkan semakin beragamnya pilihan investasi masyarakat, terutama di sektor consumer goods.
Perbankan Tetap Selektif
Intermediasi perbankan masih terjaga dengan kredit Februari 2026 sebesar Rp620,1 triliun, tumbuh 1,97% yoy. Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp830,8 triliun, naik 4,19% yoy. Rasio LDR/FDR turun ke 74,64%, menandakan ruang ekspansi kredit masih tersedia. Meski rasio kredit bermasalah (NPL Gross) naik ke 3,63%, OJK menilai risiko masih terkendali.
Penopang Ekonomi Daerah
Dengan kondisi ini, OJK Jawa Timur menegaskan sektor jasa keuangan tetap adaptif dan kuat dalam menghadapi tantangan eksternal maupun domestik. Peran intermediasi perbankan, pasar modal, dan inovasi digital diyakini akan terus mendukung stabilitas sistem keuangan serta pertumbuhan ekonomi Jawa Timur secara berkelanjutan.
Editor: Ida



