SIDOARJO | WARTA PERTIWI – Dalam upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi batik berbasis ekonomi hijau, Tim Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) dari Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) dan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya meluncurkan inovasi mesin robot motif batik untuk Industri Rumah Tangga (IRT) Batik Namiroh di Sidoarjo. Senin (15 September 2025)
Program PKM yang berlangsung sejak 9 Juni hingga 17 September 2025 ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek. Tim pelaksana terdiri dari tiga dosen: Dr. Yoosita Aulia, SE., MM., Ak. (ketua tim), Dr. Dian Ferriswara, SE., MM., dan Maula Nafi, ST., MT., serta tiga mahasiswa Unitomo.
Menurut Dr. Yoosita Aulia, mitra IRT Batik Namiroh menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan motif, kondisi rumah produksi yang tidak tertata, hingga proses produksi yang masih konvensional. “Mesin robot motif batik ini hadir sebagai solusi untuk mempercepat proses menggambar motif, dari tiga minggu menjadi hanya tiga jam,” jelasnya.
Mesin berukuran 60 x 100 cm ini tidak hanya portabel, tetapi juga mampu meningkatkan kapasitas produksi hingga 40%, menghemat penggunaan malam, dan menjaga kualitas batik. Dalam sesi pelatihan, Maula Nafi menekankan bahwa teknologi ini tetap mempertahankan proses manual demi menjaga nilai historis batik.
Dr. Dian Ferriswara menambahkan bahwa kelemahan dalam pengemasan dan pencatatan keuangan turut menurunkan nilai jual produk. “Dengan adanya mesin ini, pengrajin bisa lebih fokus pada pengembangan motif dan branding produk,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan penuh, tim PKM Unitomo dan Untag menghibahkan satu unit mesin robot kepada IRT Batik Namiroh. “Kami berharap alat ini bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk menciptakan motif yang lebih beragam, termasuk logo instansi,” kata Yoosita.
Program ini diharapkan mampu memberdayakan pengrajin muda di Kampung Batik Lemahputro, Sidoarjo, serta melestarikan seni batik dengan dukungan teknologi ramah lingkungan.(id@)



